Label

Rabu, 22 Mei 2013

Jibeuro The way home English subtitles

             Hoammm...., ngantuk buanget rasanya. Pagi ini aku berangkat kerja dengan mata bengkak (hahaha). Mata ini bengkak karena semalem habis nangis. Lucunya, aku nangis hanya karena nonton sebuah film (cape deh). Film ini nyentuh banget. Film ini nyeritain kisah seorang anak kecil dengan neneknya yang sudah tuaaaaa... buanget. Neneknya bisu, miskin, n udah bungkuk juga. Namun, dengan kondisinya yang seperti itu, si Nenek tetep aja sabarrrr banget ngadepin cucunya yang bandel ini. Walhasil, akhirnya si cucu tumbuh juga rasa kasih sayang sama neneknya. Walaupun dia masih malu-malu dan penuh angkuh, dia memberikan sebuah kertas gambar kepada neneknya saat mereka akan berpisah. Di dalam kertas itu, dia mengatakan segala apa yang dia ingin katakan melalui pesan gambar.
             Mau tahu gimana kelanjutan ceritanya????? Jangan nyesel ya kalau mata kamu bakalan bengkak (hihihi). Selamat menikmatiiii...:)
#Cekidottt....

Selasa, 14 Mei 2013

KeHILANGan

Hari Rabu lalu, tepatnya tanggal 08 Mei 2013 pukul 06.15 WIB, aku prepare untuk pulang ke Jember.  Setelah semuanya rapi, aku bergegas mengunci kamar kos dan pergi ke kantor untuk menunaikan ibadah rutin yaitu 'bekerja'. Rencananya, hari ini aku akan pulang ke Jember tepat jam 10.30 WIB seusai rapat di kantor. Rapat ini merupakan rapat yang sangat penting, jadi mau tidak mau aku harus datang. Rapat dihadiri oleh 10 orang yaitu Prof. Dr. dr. Pradana Soewondo, dr. M. Sidik, SpM(K), dr. Rossallyn Sandra, dr. Wresty Indriyatmi, dr. Johanda Damanik, Dra. Ida Hafizh, dr. Dewi Sumarko, dan dua orang Prof. Yang aku gak tahu namanya, dan yang kesepuluh adalah aku sendiri. Rapat dimulai sejak pukul 09.00 WIB.

Kemudian, tepat pukul 10.30 aku izin kepada dr. Johanda Damanik (dr. Jojo) untuk undur diri terlebih dahulu. Aku bilang kepada beliau bahwa kereta yang menuju jawa akan tiba di stasiun kota pukul 11.30, oleh karena itu satu jam sebelumnya aku harus keluar dari kantor dan segera menuju stasiun cikini yang kemudian naik Kereta Rangkaian Listrik (KRL) menuju stasiun kota. Tidak lama di cikini, beberapa detik kemudian KRL datang dan aku buru-buru masuk dan duduk di KRL dengan tenang. 

Sepanjang jalan menuju stasiun kota, dengan hati riang aku terus bersholawat, menyebut nama Allah dan Rosulnya sebagai ucapan syukur karena aku dikasih kesempatan untuk pulang ke kampung halaman. Memang, kalau sudah mau pulang ke kampung halaman rasanya senang bukan kepalang. Ngebayangin ketemu ibu, ketemu adek-adek, dan menghirup udara segar di kampung halaman adalah hal yang sangat menyenangkan. 25 menit kemudian, kereta berhenti di stasiun kota. Beberapa orang berjalan menuju gerbong yang agak di depan, dan akupun tengah bersiap untuk turun. Sebelum berdiri, aku pindahkan tasku ke belakang punggung dengan pemikiran jika aku loncat dari peron yang tinggi kemudian tasku yang berat itu masih ada didepan dada aku akan kesusahan meloncat karena keberatan di depan. Setelah meloncat aku langsung pindahkan kembali tasku ke depan, kurang lebih sekitar 7 menit tasku ada di punggung. Namun, setelah aku pindahkan ke depan, aku lihat tasku udah kebuka. Aku langsung ingat BBku, BB yang baru aku beli tiga minggu yang lalu. 

Astaghfirullah..., ternyata benar BBku udah raib diambil orang yang tak bertanggung jawab. Seketika itu aku bingung mau bagaimana. Aku call nomer ASku, awalnya diangkat. Mungkin si pencuri berpikir bahwa jika tidak diangkat maka akan ketahuan karena aku pasti ingat dengan nada deringku. Aku 'halo2' tapi sama sekali gak dijawab. 5 menit kemudian callku putus dan aku callback lagi ternyata nomer ASku udah gak aktif. Aku sempat lapor ke polisi yang ada distasiun kota, aku membuat surat laporan kehilangan, namun jawaban polisi memang agak mengecewakan, dia bilang 'susah mbak kalau BB ilang, memang udah sering sih BB ilang disini, dan sulit buat ngelacak. Mbak masih ingat pinnya kan? mbak invite lagi aja, terus pura-pura ajak ketemuan'. Ya Allah, denger kata-kata polisi itu rasanya untuk ngelacak BBku emang sesuatu yang gak mungkin, toh polisinya bilang dengan entengnya bahwa sering banget laporan BB ilang, duh duh duh.., laporan kehilangan BB bagi polisi mungkin seperti kehilangan kue aja kali ya, saking seringnya. Aku jadi mikir, gimanaaa... coba kalau BBnya si polisi sendiri yang hilang? apa mereka juga masih mau anggep enteng kayak gitu?. Lha kalau udah sering yang lapor kehilangan BB ya gimana dong solusinya? masa polisi cuma bisa ngetikin laporan kehilangan doang? aku jadi gak yakin bakalan ada tindak lanjut dari laporan kehilangan tersebut. Dan dia bilang aku disuruh invite lagi? lhaaa... aku mau nginvite pake apa?, terus, aku disuruh ngajak ketemuan si maling? haduuu.. gimana ya pemikiran polisi itu? kenapa bukannya dia aja yang nginvite BBku terus dia yang ngajak ketemuan gitu? lha kalau aku ngajak ketemuan maling kan sama aja aku nyari masalah lagi? kalau aku dimalingin lagi, gimana coba???...

Aku pasrah aja sama BBku yang ilang itu, sepertinya aku memang harus ikhlasin BBku yang ilang itu, dan udah gak bisa lagi ngarepin si polisi itu. 

Setelah itu, kereta jawa datang. "Aku udah gak mau mikirin BB yang ilang tadi, yang penting aku bisa pulang", gumamku dalam hati. Sepanjang jalan, aku terus menghubungi temen-temen kontak di BBMku, bukan untuk pengumuman bahwa BBku ilang, tapi lebih kepada waspada takut-takut kalau si maling BB tiba-tiba BBM macem-macem ke temen-temenku. Kemudian, aku telfon ibu memberi kabar bahwa BBku ilang, aku memberi kabar kepada ibu agar ibu tidak menelfon atau sms di nomer ASku. Ibu bilang "Innalillahi wa inna ilaihi roji'un (sesungguhnya segala sesuatu adalah milik Allah dan kepadaNyalah semua kembali), Alhamdulillah yang penting kamu selamat. Sabarrr.. ya nak, insyaAllah Allah punya hadiah yang lebih indah buat kamu". Lega rasanya mendengar kata-kata ibu, dan aku pun bilang pada ibu "iya bu, insyaAllah aku sabar. Lagian, BB itukan bukan BBku tapi BBnya Allah, Allah yang ngasih duit ke aku sampe aku bisa beli BB itu. Perkara sama Allah mau diambil lagi ya gpp. Di dunia ini, Allah memang hanya memberi kita hak pakai, bukan hak milik, pemilik mutlaknya tetap Allah. Jadi, ketika Sang Pemilik (Allah) sudah mau mengambil milikNya kita juga harus ikhlas menerimanya". 

"Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah telah memberikan hati yang lapang, jiwa yang tenang, dan pikiran yang insyaAllah selalu husnudzan padaMu Ya Robb"


Nb : 
Tanggal 14 Mei 2013, kurang lebih pukul 13.30, seorang teman bilang bahwa DPku telah berubah menjadi gambar seseorang yang sedang memegang pistol, sedangkan nama penggunanya berubah menjadi 'Arya Bimo'. Apakah Arya Bimo adalah si pencuri BBku? atau..., dia adalah seorang customer yang membeli BBku dari si Pencuri? entahlah, Wallahua'lam.

Selasa, 07 Mei 2013

tak Hanya di Duni@

Beberapa hari yang lalu, saya tiba-tiba berpikir mengenai perkara yang sebelumnya sama sekali tak pernah saya pikirkan. Apa itu? 'MALU'. Malu pada siapa? 'ALLAH' tentunya.

Di usia 24 ini, saya benar-benar bersyukur kepada Allah atas segala doa yang telah Allah kabulkan, atas segala ikhtiyar dan tawakkal yang telah Allah jawab, dan atas segala keringat dan air mata yang Allah hapus kemudian menggantinya dengan senyum kebahagiaan. Bagaimana tidak?, saya ingin lulus s1 dengan IPK yang memuaskan Alhamdulillah Allah mewujudkan, saya ingin usai lulus s1 langsung s2 di Universitas Indonesia alhamdulillah Allah mengabulkan, saya ingin ketika saya s2 tidak merepotkan orang tua dalam segi materi alhamdulillah Allah memberikan beasiswa untuk membayar SPP saya, dan untuk biaya hidup sehari-hari Allah memberikan saya pekerjaan yang bisa dibilang honornya lebih dari cukup.

Alhamdulillah, saya benar-benar bersyukur atas segala yang Allah berikan itu. Akan tetapi, di sisi lain, saya benar-benar merasa malu pada Allah. Terutama dengan tingkat pendidikan yang saya sandang di dunia ini. Di sini, di dunia ini, semua orang dapat melihat bahwa saya seorang wanita yang sedang menempuh pendidikan s2 dan insyaAllah sebentar lagi akan menyandang gelar Magister Kesejahteraan Sosial.

Lalu, dengan gelar yang saya sandang di dunia ini, apakah ada yang bisa menjamin bahwa dihadapan Allah saya juga s2? atau jangan-jangan di dunia ini saya s2 sedang di hadapan Allah saya hanya seorang TK, atau bahkan Paud?. Saya Malu, dan sangat malu pada Allah. Saya berteriak dalam hati, saya menangis dalam sujud awwabin saya, mengenang segala kenikmatan yang Allah berikan, mengingat segala kekurangan dengan ibadah yang saya lakukan. Saya kerjakan lima waktu tapi ibadah sunnah qobliyah dan ba'diyah belum istiqomah saya lakukan, bukan kah ini artinya ibadah saya belum mencapai tingkatan yang tinggi? Jangan-jangan saya benar-benar masih TK dihadapan Allah.

Astaghfirullah...., Ampuni saya Ya Allah, bimbing saya, izinkan saya menjadi seorang master atau doktor di dunia, dan jadikan saya profesor dihadapanMu Ya Robb. (aamiin)