Label

Kamis, 13 September 2012

GLOBALISASI KEMIKSKINAN

Tugas Mata Kuliah : Strategi dan Teknik Pengembangan Masyarakat

               Sistem moneter pada ekonomi global yang terjadi dunia mengakibatkan pertumbuhan jumlah pengangguran, upah minimum, dan penumpukan marginalisasi pada berbagai sektor.  Agar terlepas dari keterpurukan ekonomi akibat sistem moneter tersebut maka berbagai negara termasuk, Indonesia menghutang kepada IMF (International Monetary Fund). IMF merupakan organisasi internasional yang bertanggung jawab dalam mengatur sistem finansial global dan menyediakan pinjaman kepada negara anggotanya untuk membantu masalah-masalah perekonomian di negara yang mengalami krisis ekonomi. 
Keberadaan IMF sebagai salah satu motor globalisasi  dan dianggap sebagai “Obat Ekonomi” beranggapan bahwa dengan sistem membantu negara lain yang mengalami krisis dapat memakmurkan negara tersebut. Namun, pada kenyataannya IMF membuat negara-negara yang menghutang menjadi semakin terlilit hutang dan semakin terikat akan hutang-hutang yang lainnya. Hal ini diakibatkan dampak dari peminjaman tersebut menghancurkan ekonomi nasional sehingga terjadi polisarisasi sosial di masyarakat dan penumpukan kekayaan bagi sebagian golongan elit di Indonesia.
            Lembaga lain yang terkait dengan dampak globalisasi adalah WTO (World Trade Organization) yang bertujuan untuk menciptakan stabilitas perdagangan dan berfungsi sebagai wasit dalam perdagangan internasional. Terlepas dari itu semua, globalisasi seperti kepalsuan yang berdalih kemakmuran  yang mencengkram negara-negara tersebut. Globalisasi selalu mengusung pada kata “Free Market”, yang menjanjikan pertumbuhan ekonomi nasional. Namun pada faktanya, dengan adanya “Free Market” tersebut membunuh industri-industri lokal. Pada realitasnya masih banyak ditemukan ketimpangan social ekonomi dimana yang kaya semakin kaya dan sebaliknya yang miskin semakin terpuruk dengan kondisi ekonomi seperti itu.
            Sistem Kebijakan Negara melalui pengkondisian peminjaman merupakan salah satu dampak dari sistem globalisasi juga. Memperbesar pinjaman guna membuat pertumbuhan ekonomi menjadi wacana dalam sistem kebijakan ini.
World Bank sebagai produk lembaga dari globalisasi, saat ini sedang mendanai pemenuhan hak-hak wanita di bidang ekonomi dan menyoroti pada persamaan gender antara laki-laki dan perempuan. Dibalik itu semua, tersembunyi suatu agenda yang mengatasnamakan Modernisasi dan “ the empowerment of women” (pemberdayaan wanita) melalui pasar bebas untuk membuka privitasisasi daerah.
Dampak lainnya yang menjadi akibat dari globalisasi yakni  penggajian buruh yang murah, kemunduran ketersediaan ternak akibat dari sistem import dari berbagai daerah akibat dari pasar bebas tersebut dan privitasi BUMN yang menyediakan bahan mentah dunia.
Banyak kasus dari berbagai negara seperti Somalia dan Sub Saharan Africa yang runtuh akibat dari hutang kepada IMF dan mengakibatkan globalisasi besar-besaran tanpa diikuti dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang mengontrol dan melindungi masyarakat. Turut campurnya IMF dalam mengontrol keuangan negara mengakibat kemiskinan besar-besaran di negara karena “Free Market” menjadi basis utama dalam proses ini. Kasus konflik yang meruncing pada perang di masyarakat juga menjadi dampak besar dalam ketidakadilan ini. Kasus di Africa terlihat, dimana perusahaan Afrika Selatan dan Bank berpartisipasi untuk memprivitasisasi program asset seperti, minyak, pelayanan umum dan pertanian.
M. chossudovsky mengatakan bahwa IMF melakukan perampasan global dengan manipulasi mata uang dan pasar komuditas. Seperti yang ia tuliskan tentang hasil pengamatannya pada negara-negara berikut: Somalia yang di intervensi oleh IMF sejak awal 1980-an menyebabkan kolaps pada agrikulture. Rwanda, konflik dan perang saudara terjadi karena masalah krisis ekonomi yang disebabkan rekonstruksi sistem agricultural supervisi  dibawah IMF-world bank dimana masyarakat diendapkan dalam kemiskinan dan kemelarata.
Ethopia, kelaparan yang terjadi menyebabkan penyesuaian struktural. Bangladesh, deregulasi dan permaianan harga memperburuk keadaan, deregulasi pasar hanya membuat komoditi AS menjadi surplus dan seimbang. Peru, setelah liberalisasi diterapkan harga roti meningkat tajam sampai 12 kali lipat. Russia, hanya membantu pihak oligarki.
Yugoslavia, ekonomi Yugoslavia pernah sangat berhasil pada dekade 1960-an ditandai dengan Pendapatan Domestic Bruto (PDB) mencapai 6,1%, pelayanan kesehatan gratis, buta huruf hampir tidak ada dengan nilai 91%  masyarakat bisa membaca dan harapan unuk hidup mencapai 72 tahun. Tapi setelah dekade ekonomi barat (Amerika dan German) dan dekade disintergasi, perang saudara, boikot dan embargo menyebabkan ekonomi Yugoslavia menjadi hancur. Untuk mengatasinya Yugoslavia mengambil sejumlah pinjaman pada Dana Moneter International (IMF), tapi hal tersebut hanya membuat perekonomian Yugoslavia semakin memburuk.
Begitupun pada dunia orde baru yang terjadi di Korea dan beberapa negara asia lainnya yang terikat dan digaransikan seperti wall street dimana IMF dan bank dunia melakukan spekulatif dalam membantu beberapa bank dengan bail-outs.  M.Chossudovsky menawarkan beberapa solusi perekonomian dunia, seperti demokratisasi sistem ekonomi, retribusi yang diterima dipergunakan kembali untuk kesejahteraan sosial dengan kembali pada negara kesejahteraan, namun memang dalam implimentasinya akan masih sangat susah untuk diterapkan. 

GLOBALISASI KEMIKSKINAN


Tugas Mata Kuliah : Strategi dan Teknik Pengembangan Masyarakat

Sistem moneter pada ekonomi global yang terjadi dunia mengakibatkan pertumbuhan jumlah pengangguran, upah minimum, dan penumpukan marginalisasi pada berbagai sektor.  Agar terlepas dari keterpurukan ekonomi akibat sistem moneter tersebut maka berbagai negara termasuk, Indonesia menghutang kepada IMF (International Monetary Fund). IMF merupakan organisasi internasional yang bertanggung jawab dalam mengatur sistem finansial global dan menyediakan pinjaman kepada negara anggotanya untuk membantu masalah-masalah perekonomian di negara yang mengalami krisis ekonomi. 
Keberadaan IMF sebagai salah satu motor globalisasi  dan dianggap sebagai “Obat Ekonomi” beranggapan bahwa dengan sistem membantu negara lain yang mengalami krisis dapat memakmurkan negara tersebut. Namun, pada kenyataannya IMF membuat negara-negara yang menghutang menjadi semakin terlilit hutang dan semakin terikat akan hutang-hutang yang lainnya. Hal ini diakibatkan dampak dari peminjaman tersebut menghancurkan ekonomi nasional sehingga terjadi polisarisasi sosial di masyarakat dan penumpukan kekayaan bagi sebagian golongan elit di Indonesia.
            Lembaga lain yang terkait dengan dampak globalisasi adalah WTO (World Trade Organization) yang bertujuan untuk menciptakan stabilitas perdagangan dan berfungsi sebagai wasit dalam perdagangan internasional. Terlepas dari itu semua, globalisasi seperti kepalsuan yang berdalih kemakmuran  yang mencengkram negara-negara tersebut. Globalisasi selalu mengusung pada kata “Free Market”, yang menjanjikan pertumbuhan ekonomi nasional. Namun pada faktanya, dengan adanya “Free Market” tersebut membunuh industri-industri lokal. Pada realitasnya masih banyak ditemukan ketimpangan social ekonomi dimana yang kaya semakin kaya dan sebaliknya yang miskin semakin terpuruk dengan kondisi ekonomi seperti itu.
            Sistem Kebijakan Negara melalui pengkondisian peminjaman merupakan salah satu dampak dari sistem globalisasi juga. Memperbesar pinjaman guna membuat pertumbuhan ekonomi menjadi wacana dalam sistem kebijakan ini.
World Bank sebagai produk lembaga dari globalisasi, saat ini sedang mendanai pemenuhan hak-hak wanita di bidang ekonomi dan menyoroti pada persamaan gender antara laki-laki dan perempuan. Dibalik itu semua, tersembunyi suatu agenda yang mengatasnamakan Modernisasi dan “ the empowerment of women” (pemberdayaan wanita) melalui pasar bebas untuk membuka privitasisasi daerah.
Dampak lainnya yang menjadi akibat dari globalisasi yakni  penggajian buruh yang murah, kemunduran ketersediaan ternak akibat dari sistem import dari berbagai daerah akibat dari pasar bebas tersebut dan privitasi BUMN yang menyediakan bahan mentah dunia.
Banyak kasus dari berbagai negara seperti Somalia dan Sub Saharan Africa yang runtuh akibat dari hutang kepada IMF dan mengakibatkan globalisasi besar-besaran tanpa diikuti dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang mengontrol dan melindungi masyarakat. Turut campurnya IMF dalam mengontrol keuangan negara mengakibat kemiskinan besar-besaran di negara karena “Free Market” menjadi basis utama dalam proses ini. Kasus konflik yang meruncing pada perang di masyarakat juga menjadi dampak besar dalam ketidakadilan ini. Kasus di Africa terlihat, dimana perusahaan Afrika Selatan dan Bank berpartisipasi untuk memprivitasisasi program asset seperti, minyak, pelayanan umum dan pertanian.
M. chossudovsky mengatakan bahwa IMF melakukan perampasan global dengan manipulasi mata uang dan pasar komuditas. Seperti yang ia tuliskan tentang hasil pengamatannya pada negara-negara berikut: Somalia yang di intervensi oleh IMF sejak awal 1980-an menyebabkan kolaps pada agrikulture. Rwanda, konflik dan perang saudara terjadi karena masalah krisis ekonomi yang disebabkan rekonstruksi sistem agricultural supervisi  dibawah IMF-world bank dimana masyarakat diendapkan dalam kemiskinan dan kemelarata.
Ethopia, kelaparan yang terjadi menyebabkan penyesuaian struktural. Bangladesh, deregulasi dan permaianan harga memperburuk keadaan, deregulasi pasar hanya membuat komoditi AS menjadi surplus dan seimbang. Peru, setelah liberalisasi diterapkan harga roti meningkat tajam sampai 12 kali lipat. Russia, hanya membantu pihak oligarki.
Yugoslavia, ekonomi Yugoslavia pernah sangat berhasil pada dekade 1960-an ditandai dengan Pendapatan Domestic Bruto (PDB) mencapai 6,1%, pelayanan kesehatan gratis, buta huruf hampir tidak ada dengan nilai 91%  masyarakat bisa membaca dan harapan unuk hidup mencapai 72 tahun. Tapi setelah dekade ekonomi barat (Amerika dan German) dan dekade disintergasi, perang saudara, boikot dan embargo menyebabkan ekonomi Yugoslavia menjadi hancur. Untuk mengatasinya Yugoslavia mengambil sejumlah pinjaman pada Dana Moneter International (IMF), tapi hal tersebut hanya membuat perekonomian Yugoslavia semakin memburuk.
Begitupun pada dunia orde baru yang terjadi di Korea dan beberapa negara asia lainnya yang terikat dan digaransikan seperti wall street dimana IMF dan bank dunia melakukan spekulatif dalam membantu beberapa bank dengan bail-outs.  M.Chossudovsky menawarkan beberapa solusi perekonomian dunia, seperti demokratisasi sistem ekonomi, retribusi yang diterima dipergunakan kembali untuk kesejahteraan sosial dengan kembali pada negara kesejahteraan, namun memang dalam implimentasinya akan masih sangat susah untuk diterapkan.