Tugas Mata Kuliah : Strategi dan Teknik Pengembangan Masyarakat
Sistem moneter pada
ekonomi global yang terjadi dunia mengakibatkan pertumbuhan jumlah
pengangguran, upah minimum, dan penumpukan marginalisasi pada berbagai sektor. Agar terlepas dari keterpurukan ekonomi akibat
sistem moneter tersebut maka berbagai negara termasuk, Indonesia menghutang
kepada IMF (International Monetary Fund).
IMF merupakan organisasi internasional yang bertanggung jawab dalam mengatur
sistem finansial global dan menyediakan pinjaman kepada negara anggotanya untuk
membantu masalah-masalah perekonomian di negara yang mengalami krisis
ekonomi.
Keberadaan IMF sebagai
salah satu motor globalisasi dan
dianggap sebagai “Obat Ekonomi” beranggapan bahwa dengan sistem membantu negara
lain yang mengalami krisis dapat memakmurkan negara tersebut. Namun, pada
kenyataannya IMF membuat negara-negara yang menghutang menjadi semakin terlilit
hutang dan semakin terikat akan hutang-hutang yang lainnya. Hal ini diakibatkan
dampak dari peminjaman tersebut menghancurkan ekonomi nasional sehingga terjadi
polisarisasi sosial di masyarakat dan penumpukan kekayaan bagi sebagian
golongan elit di Indonesia.
Lembaga
lain yang terkait dengan dampak globalisasi adalah WTO (World Trade
Organization) yang bertujuan untuk menciptakan stabilitas perdagangan dan
berfungsi sebagai wasit dalam perdagangan internasional. Terlepas dari itu
semua, globalisasi seperti kepalsuan yang berdalih kemakmuran yang mencengkram negara-negara tersebut.
Globalisasi selalu mengusung pada kata “Free Market”, yang menjanjikan
pertumbuhan ekonomi nasional. Namun pada faktanya, dengan adanya “Free Market”
tersebut membunuh industri-industri lokal. Pada realitasnya masih banyak
ditemukan ketimpangan social ekonomi dimana yang kaya semakin kaya dan
sebaliknya yang miskin semakin terpuruk dengan kondisi ekonomi seperti itu.
Sistem
Kebijakan Negara melalui pengkondisian peminjaman merupakan salah satu dampak
dari sistem globalisasi juga. Memperbesar pinjaman guna membuat pertumbuhan
ekonomi menjadi wacana dalam sistem kebijakan ini.
World Bank sebagai
produk lembaga dari globalisasi, saat ini sedang mendanai pemenuhan hak-hak
wanita di bidang ekonomi dan menyoroti pada persamaan gender antara laki-laki
dan perempuan. Dibalik itu semua, tersembunyi suatu agenda yang mengatasnamakan
Modernisasi dan “ the empowerment of women” (pemberdayaan wanita) melalui pasar
bebas untuk membuka privitasisasi daerah.
Dampak lainnya yang
menjadi akibat dari globalisasi yakni
penggajian buruh yang murah, kemunduran ketersediaan ternak akibat dari
sistem import dari berbagai daerah akibat dari pasar bebas tersebut dan
privitasi BUMN yang menyediakan bahan mentah dunia.
Banyak kasus dari berbagai
negara seperti Somalia dan Sub Saharan Africa yang runtuh akibat dari hutang
kepada IMF dan mengakibatkan globalisasi besar-besaran tanpa diikuti dengan
kebijakan-kebijakan pemerintah yang mengontrol dan melindungi masyarakat. Turut
campurnya IMF dalam mengontrol keuangan negara mengakibat kemiskinan
besar-besaran di negara karena “Free Market” menjadi basis utama dalam proses
ini. Kasus konflik yang meruncing pada perang di masyarakat juga menjadi dampak
besar dalam ketidakadilan ini. Kasus di Africa terlihat, dimana perusahaan
Afrika Selatan dan Bank berpartisipasi untuk memprivitasisasi program asset
seperti, minyak, pelayanan umum dan pertanian.
M.
chossudovsky mengatakan bahwa IMF melakukan perampasan global dengan manipulasi
mata uang dan pasar komuditas. Seperti yang ia tuliskan tentang hasil
pengamatannya pada negara-negara berikut: Somalia yang di intervensi oleh IMF
sejak awal 1980-an menyebabkan kolaps pada agrikulture. Rwanda, konflik dan
perang saudara terjadi karena masalah krisis ekonomi yang disebabkan
rekonstruksi sistem agricultural supervisi
dibawah IMF-world bank dimana masyarakat diendapkan dalam kemiskinan dan
kemelarata.
Ethopia,
kelaparan yang terjadi menyebabkan penyesuaian struktural. Bangladesh,
deregulasi dan permaianan harga memperburuk keadaan, deregulasi pasar hanya
membuat komoditi AS menjadi surplus dan seimbang. Peru, setelah liberalisasi
diterapkan harga roti meningkat tajam sampai 12 kali lipat. Russia, hanya
membantu pihak oligarki.
Yugoslavia, ekonomi Yugoslavia pernah sangat berhasil
pada dekade 1960-an ditandai dengan Pendapatan Domestic Bruto (PDB) mencapai
6,1%, pelayanan kesehatan gratis, buta huruf hampir tidak ada dengan nilai
91% masyarakat bisa membaca dan harapan
unuk hidup mencapai 72 tahun. Tapi setelah dekade ekonomi barat (Amerika dan
German) dan dekade disintergasi, perang saudara, boikot dan embargo menyebabkan
ekonomi Yugoslavia menjadi hancur. Untuk mengatasinya Yugoslavia mengambil
sejumlah pinjaman pada Dana Moneter International (IMF), tapi hal tersebut
hanya membuat perekonomian Yugoslavia semakin memburuk.
Begitupun
pada dunia orde baru yang terjadi di Korea dan beberapa negara asia lainnya
yang terikat dan digaransikan seperti wall street dimana IMF dan bank dunia
melakukan spekulatif dalam membantu beberapa bank dengan bail-outs. M.Chossudovsky menawarkan beberapa solusi
perekonomian dunia, seperti demokratisasi sistem ekonomi, retribusi yang
diterima dipergunakan kembali untuk kesejahteraan sosial dengan kembali pada
negara kesejahteraan, namun memang dalam implimentasinya akan masih sangat
susah untuk diterapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar