Label

Minggu, 13 Juli 2014

Lagi, Pelajaran Sosial 'Direct'

Alhamdulillah...
Alhamdulillah...
Alhamdulillah...

Bulan Ramadhan kali ini terasa begitu berkah. Allah memberikan pelajaran demi pelajaran yg sangat berharga. Yang mana di bangku kuliah saya hanya bisa mempelajari beragam teorinya dan prakteknya hanya memang terlaksana sebatas  tugas kampus. Namun, akhir-akhir ini Allah memberikan pelajaran secara langsung... secara nyata, dan menjadikan saya merasa sedikit dapat membantu mereka yg membutuhkan. Alhamdulillah ...

Kalau beberapa minggu lalu, Allah memberikan saya kesempatan untuk mendampingi ratusan Keluarga Sangat Miskin (KSM) melalui progran Kementrian Sosial RI yakni Progran Keluarga Harapan (PKH), seperti yg telah saya ceritakan pada tulisan saya sebelumnya (lihat *PKH Undercover). Hari ini, Allah memberikan saya kesempatan lagi untuk menjadi Manusia yg lebih sosial lewat Ibu saya.

Ceritanya gini. Ibu saya dapat undangan dari Batalyon Yonif 515 Tanggul. Tepatnya, Ibu Komandan Batalyon menelfon ibu saya untuk mencarikan 40 anak yang terdiri dari yatim-piatu dan dhuafa' untuk mendapatkan santunan dari Batalyon 515 tersebut. Saking semangatnya, dipercaya seperti itu, ibu dan saya langsung berangkat mencari anak yg sekiranya bisa tepat sasaran. Alhamdulillah, di siang ramadhan yg terik sama sekali tak terasa panasnya, tak terasa dahaganya.

Kamipun terus jalan mencari anak-anak yg memang pantas untuk mendapat santunan ini. Finally, 40 anak yang terdiri dari yatim-piatu dan dhuafa' pun terkumpul. Bahkan, diantara mereka juga ada yang penyandang disabelitas. Alhamdulillah, ini juga berkat bantuan tante dan pak dhe yg masing-masing dari mereka berhasil mencarikan 5 anak yatim. Tante 5, dan Pak dhe 5.

Kemudian, sore tadi.., saya, ibu dan 39 anak berangkat ke Yonif 515. Dari 40 anak, ada satu yg ternyata berhalangan hadir.

Adek-adek kumpul di rumah pukul 15.00 WIB dan di jemput pik up ke batalyon pukul 15.15 WIB. Karena memang pik up terlalu kecil, sehingga butuh dua kali jemputan.

Berdasarkan wejangan ibu yang menasehati agar adek-adek ini bisa menjaga sikap dan tidak ramai, mereka pun mematuhi. Saat Ibu saya ceramah mereka mendengarkan, saat Ibu Komandan memberikan sambutan mereka menyimak, dan saat Ibu saya membaca doa mereka tertunduk seraya mengucap 'aamiin'. Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Para ibu persit yg juga hadir dalam acara tersebut begitu terkesima terutama saat salah seorang anak yang kami bawa ini membacakan ayat-ayat suci Al-quran dengan suara merdu dan alunan nada yang indah. Surat Ar-Rohman, adek Muhsin yang masih usia enam tahun ini membaca Surat Ar-Rohman dengan begitu hikmad.

Saya benar merasa tersentuh. Melihat senyum anak-anak tak berdosa ini membuat saya terharu. Melihat wajah dermawan Ibu komandan dan para persit membuat saya merasa senang karena masih ada yang peduli terhadap anak-anak dhuafa dan yatim-piatu. Melihat semangat ibu saya menyampaikan ceramah dan berusaha amanah dengan permintaan Ibu Komandan (membawa 40 anak yang memang benar-benar membutuhkan) membuat saya bangga mempunyai ibu sepertinya.

Dan, merasakan kehadiran seorang yang sangat saya cinta, yang dulunya juga pernah bekerja sebagai TNI di Yonif 515, yang membimbing ibu saya sehingga bisa menjadi orang yang sangat bermanfaat seperti sekarang, yang menyayangi saya dan adek-adek saya hingga akhir hayatnya, yang selalu mengingatkan ibu saya, saya dan adek-adek saya kepada Allah Azza Wa Jalla, membuat kami cinta dan sangat bersyukur pada Allah atas segalanya.

Kami menyayangimu Ayah, kami bangga menjadi putri-putrimu. Ibu menyayangimu dan saya serta adek-adek percaya, Ibu sangat bangga menjadi istrimu. ♡♡♡
 
Jauh di lubuk hati saya yang terdalam, saya memohon pada Allah agar Allah membimbing saya untuk menjadi orang yang sangat bermanfaat seperti ayah dan ibu saya. Dengan memohon maunah Allah, saya dedikasikan diri saya untuk selalu berusaha belajar menjadi wanita yang sholihah baik sholihah agamanya maupun sholihah sosialnya. Saya percaya, Allah akan selalu membantu saya. Allah sebaik-baik pembimbing. Thank God, for everything.

Senin, 07 Juli 2014

PKH Undercover bag. 1

Entah lebay, alay, dramatis, atau apapun namanya silakan saja. Hari ini saya ikhlas untuk diklasifikasikan ke kelompok orang-orang alayer, lebayer, atau dramatiser tersebut. Gakpapa.

Saya merasa bahagia sebahagia-bahagianya. Sedikit merasa menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Alhamdulillah. Semua ini cukup untuk membayar urusan pribadi saya yang terbengkalai. Ya, hari ini saya berencana untuk mengurus perpanjangan SKCK. Urusan pribadi. Bukannya mau ngelamar kerja, tapi SKCK sudah jatuh tempo sehingga harus diperpanjang. Sempet saya mikir, kenapa deadline SKCK ini gak enam bulan saja, atau setahun. Kenapa harus empat bulan. Bukankah empat bulan ini waktu yang cukup sempit untuk saya bolak-balik dari RT, RW, Kantor Desa, Polsek, dan Polres, kemudian saya harus mengulangi prosedur yang sama setelah empat bulan berlalu. Capek. Tapi, yasudahlah, namanya juga WNI yang baik, harus mengikuti peraturan yang ada.

Dari semalam saya sudah berencana bahwa urusan perpanjangan SKCK ini harus kelar hari ini, tapi saat saya berada di Kantor Desa, saat saya tengah menunggu surat pengantar dari desa, saya mendapati BBM seorang kawan yang mengatakan harus kumpul di Kantor Pos Tanggul untuk belajar dari Pendamping PKH (Program Keluarga Harapan) Kecamatan Semboro yang hari ini sedang mengurus pencairan uang bantuan KSM (Keluarga Sangat Miskin). Memang, untuk PKH Kecamatan Semboro pencairan uangnya masih melalui Kantor Pos Tanggul. Terbesit dalan pikiran saya "halah, inikan urusan pendamping PKH semboro, bukan urusan saya dong, toh saya ini Pendamping PKH Kecamatan Tanggul, gak datang juga pastinya gakpapa. Gak wajib.

Saya terus menunggu si mas yang lagi sibuk ngetik surat pengantar dari desa. Dua jam berlalu. Lamanyaaaa aaampuuunn. Sepertinya yang lama bukan dalam pembuatan surat pengantar, tapi minta ttd Bapak Kepala Desa. Entah kemana si Bapak Kepala Desa, sampai-sampai si mas yang ngurus surat saya harus bolak-balik tancap motornya melaju entah kemana. Pastinya menemui si Bapak Kepala Desa.

Dalam rentan waktu menunggu itu, saya mulai galau. Saya jadi pergi ke Jember untuk ngurus perpanjangan SKCK atau saya ke Kantor Pos Tanggul aja ya, belajar mendampingi pencairan bantuan dana KSM. Kalau saya gak perpanjang SKCK, sementara SKCK saya sudah jatuh tempo, bisa-bisa saya harus buat SKCK baru dengan prosedur yang lebih ribet dan lama tentunya. Tapi, kalau saya gak belajar mendampingi pencairan dana KSM, saya bisa buta nantinya ketika saya telah benar-benar bertugas di lapangan. Sedangkan kalau saya buta, bisa-bisa KSM tak terlayani dengan baik dan bisa merugikan mereka. Halah makkk. Dilema.

Finally, saya ambil HP yang saya letakkan jauh didasar tas. Saya langsung BBM kawan saya yang sudah berada di Kantor Pos sejak satu jam yang lalu, "mbak, aku nggak jadi ke Jember deh, aku ke Kantor Pos aja. Entar habis surat pengantar dari desa selesai, aku ke Polsek dulu bentar, abis itu cus deh langsung ke Kantor Pos". Tak lupa saya update status BBM untuk meyakinkan diri saya bahwa keputusan saya benar (hehehe), "Saat kepentingan pribadi berbenturan dengan kepentingan orang banyak, memilih untuk menyelesaikan kepentingan orang banyak kadang terasa lebih nikmat". Semoga.

Sesampainya di Kantor Pos, saya melihat sudah berjubel para ibu, ada juga beberapa orang bapak, katanya mereka mewakili istrinya yang tidak bisa hadir. Haduh, terenyuh saya. Tersentuh. Melihat wajah-wajah mereka. Wajah yang rela capek menunggu antrian yang begitu panjang demi uang yang kaum borju pasti bilang tak seberapa jumlahnya. Uangnya mau dibuat berbuka nanti katanya. Mengharukan.

Sesuai prosedur yang ada, mereka duduk antri menunggu panggilan. Setelah dipanggil, tinggal nyerahin Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP), lalu cap jempol di kertas ini dan itu, beres deh. Uang pun mereka terima.

Saya merasa senang. Memanggil nama mereka, meraih jari jempolnya, lalu mengarahkan jempolnya ke tinta dan menekannya di beberapa kertas. Gitu aja kerjaan saya tadi. Tapi, lebih dari itu, saya merasa senang bisa tersenyum melayani mereka, dan mendapati balasan senyum mereka itu ibarat meneguk sejuknya air di tengah panas dan dahaganya siang tadi. Aihhh, indahnyaaa. Kok bisa ya, gitu aja saya udah kepalang senang. Selama ini saya kemana???

Memang, hari ini benar terasa berbeda. Jika sebelumnya saya bekerja untuk kesejahteraan orang-orang kaya, lebih tepatnya untuk urusan akademik para Mahasiswa Dokter Spesialis dan juga mengurusi urusan honor mengajar dosen yang notabene juga para Profesor Doktor Dokter Spesialis, hari ini saya mengurusi Keluarga Sangat Miskin. KSM. Yang mana pendidikan, kesehatan, masih asing bagi mereka. Ada tebing yang curam antara pekerjaan saya sebelumnya dengan yang sekarang. Benar-benar berbeda. Namun, saya bersyukur pernah merasakan bekerja untuk keduanya. Saya menikmati melayani keduanya. Tapi, saya merasa lebih berguna dan lebih dibutuhkan dengan pekerjaan saya yang sekarang. Karena yang membutuhkan saya kali ini bukan orang yang serba berkecukupan sosial dan ekonominya, tapi mereka yang sangat kekurangan. Mereka yang bisa dikata jauh dari 'sejahtera'.

Ini benar pelajaran buat saya. Saya emang mahluk sosial, kuliah aja jurusan sosial, tapi saya sama sekali kurang pergaulan, gak sosial. Mungkin Allah nempatin saya di posisi pekerjaan ini agar saya lebih banyak belajar. Belajar menjadi mahluk yang benar-benar sosial. Belajar mengenai arti kehidupan. Belajar menjadi orang yang berguna, terutama bagi mereka yang benar-benar membutuhkan.

Namun, memang sih, masih ada rasa kecewa saat saya di Kantor Pos tadi. Dari sekian KSM, ada yang bawa motor bagus (ahh, mungkin pinjem), ada juga yang jari tangannya dilingkari dengan yang tidak hanya satu, begitu juga dengan pergelangan tangannya (cincin dan gelang, gak mungkin pinjamkan?). Dari sini, saya bisa menyimpulkan, bahwa kami punya PR besar, PR besar untuk mengupayakan program Kementrian Sosial RI ini tepat sasaran. Agar menyentuh mereka yang benar membutuhkan, bukan sekedar bermental kekurangan atau bertopeng kemiskinan.

Minggu, 23 Maret 2014

Rapuh-Opick

Detik waktu terus berjalan
Berhias gelap dan terang
Suka dan duka, tangis dan tawa
Tergores bagai lukisan

Seribu mimpi berjuta sepi
Hadir bagai teman sejati
Diantara lelahnya jiwa
Dalam resah dan air mata

Kupersembahkan kepadaMu
Yang terindah dalam hidupku

Meski kurapuh dalam langkah
Kadang tak setia kepadaMu
Namun cinta dalam jiwa
Hanyalah padaMu

Maafkanlah bila hati
Tak sempurna mencintaiMu
Dalam dada kuharap hanya
Dirimu yang bertahta

Detik waktu terus berlalu
Semua berakhir padamu

Kamis, 31 Oktober 2013

Di tengah Kesibukan, ada saja Orang yang Menjengkelkan

1.5 bulan lagi deadline pengumpulan thesis. Ya Allahhh... rasanya puyeng. Gak mudah ternyata bagi waktu antara kerja dan Thesis. Dua-duanya butuh perhatian besar dan harus dilaksanakan dengan penuh tanggung-jawab. Beruntung punya bos dan rekan kerja yang subhanallah begitu pengertian, sampai-sampai berulang kali saya izin turun lapangan untuk wawancara, mereka fine-fine aja. Alhamdulillah.

Dalam proses penyelesaian thesis ini, banyak hal yang harus dilakukan. Bangun dini hari, berangkat kerja, siang pergi berkelana mencari rumah informan untuk bisa wawancara, dan malam langsung menulis transkip hasil rekaman wawancara informan. Subhanallah.

Di tengah kesibukan seperti ini, otomastis yang namanya pikiran itu terkuras habis. Yang namanya kata-kata "belgis,,,, sabar n tetap semangat yaa..!!!" hampir tiap detik saya sematkan pada diri saya sendiri. Ini masa-masa sulit, masa-masa emosi tingkat tinggi, jadi kesenggol dikit bisa parah akibatnya, hahaha.

Tapi, memang ini lagi uji kesabaran sepertinya. Kenapa?, bayangin aja !, bayangin yaa...!!, ba ya ngin...!!!, saat-saat sedang super sibuk seperti ini adaaa... aja orang tiba-tiba muncul dengan keunikannya masing-masing. Keunikan yang lumayan nyulut emosi., tapi bikin ketawa juga sih. Hahaha, hufftt...

Beberapa hari yang lalu, di tengah-tengah saya sedang ngerjain thesis nih, muncul sms di layar HP saya.

"assalamualaikum, maaf, boleh curhat nggak".

Dia teman SMA saya, sebut saja namanya Shasya. Saya bilang :

"oke, curhat aja". 

Kemudian curhatlah Shasya tentang kisahnya. Dia bilang dia di lamar oleh seseorang. Orang tuanya sudah sreg sama si cowok, tapi dianya karena masih kuliah agak bingung mau menerima si cowok, takutnya terbengkalai kuliahnya. Shasya juga bilang dia sebenarnya agk berat untuk menrima si cowok karena dia memiliki beberapa alasan. Setelah itu, dengan simpel saya jawab :

"istikhoroh aja. atau, gampang aja sih sebenarnya, kalau suka ya lanjut, kalau nggak yaudah ngomong baik-baik. Emang apa alasannya kok keberatan?". 

Gak lama dia bales :

"Maaf ya Mbak Belgis, sepertinya malam ini saya belum bisa jawab alasan saya kenapa agak keberatan untuk menerima si cowok. Soalnya ini saya mau lembur, lagi sibuk mau ngerjain tugas kuliah. InsyaAllah, besok malam saya jawab. Besok malam saya lumayan agak santai". 

"Allahuakbar", gumam saya.
Nih maksudnya orang ini gimanaaa.. ya, udah dia yang minta waktu buat curhat, ee.. pas ditanggepin malah, gitu. hahahaha. Ada-ada aja. Kalau sibuk mah mungkin gak usah bales sms aja kali ya. Kalau bales sms seperti tadi bukannya itu buang waktu n buang sms juga?. Hadeeehhh..., ADA-ADA AJA #sambil geleng-geleng kepala. Untungnya dia cewek, kalau cowok mungkin udah saya skak matt, maklum kalau sama cowok saya lumayan sadis, hahaha. Kalau dia cowok saya bakalan bilang gini :

"Gak usah-gak usah, gak usah jawab alasannya kenapa. Saya juga gak butuh n sama sekali gak pengen tahu alasannya. Saya tuh nanya kali aja saya bisa ngasih saran yang lebih sesuai kalau saya udah tau alasannya. Gak usah di jawab..., AWAS KALAU DIJAWAB!!!". 

Selain orang ini, ada lagi orang lain yang juga teman aya. Bedanya, dia ini teman SMP, dan dia cowok. Dia bilang dia lagi di Jakarta. Dia sms ingin ketemu saya. Kebetulan saya lagi ada pelatihan sampai sore jadi saya gak bisa nemuin. Tapi sebenarnya juga bukan karena ada pelatihan sih, walaupun gak ada pelatihan saya juga gak akan mau nemuin. Kenapa? saya memang gak pernah ketemu cowok di luar rumah. Mau teman atau pacar (calon suami) tetap aja kalau mau ketemu ya di rumah. Itu prinsip saya. Memang, selama ini, baru ada satu aja cowok yang pernah ketemu saya diluar rumah. Namanya wawan, itu pun karena memang saya di suruh ibu dan disuruh omnya wawan, kebetulan om wawan dan ayah saya memang udah kenal lama dan baik, udah seperti saudara.

Temen SMP saya itu sebut saja namanya Didi. Si Didi ini agak egois menurut saya. Gak mau ngerti omongan orang. Udah baik-baik saya bilang "maaf, kalau mau ketemu di rumah aja ya". Kata-kata seperti ini gak mempan sama dia. Malah dia terussss... aja sms "ada waktu sengang nggak, ada waktu luang nggak buat sekedar minum teh". Jawaban saya pun tetap sama "nggak". Terakhir, tepatnya hari senin sekitar jam 17.30 WIB, saat saya lagi naek bemo menuju manggarai. Ini bener-bener lagi capek-capeknya pulang kerja, si Didi sms lagi minta ketemuan. Otomatis saya bilang "kamu pasti tau jawabannya, tolong hargai prinsip saya ya". Dengan ringan dia balas sms saya "hahaha, nggak kok, saya cuma iseng aja. Iya, saya tau kalau yang namanya prinsip dan hobi memang tidak bisa di ganggu". Hah??? iseng? Ya Allah,,, gak tau orang lagi pusing, capek, di isenggin dengan isengan yang sama sekali gak lucu. Marah? pasti. Saya bilang "Maaf ya, tapi saya terlanjur kesel". Dia pun minta maaf, dan bilang "maaf ya, udah buang waktu kamu untuk ngeladenin orang edan seperti saya". Astaghfirlullah, saya gak balas lagi smsnya. Bingung aja saya, kok ada orang gak bisa ngerti omongan orang. Udah diomongin baik-baik tapi gak ngerti-ngerti. Pengen dimengerti orang tapi dianya gak bisa ngerti orang. Mulailah dia mikir saya sombonglah, terlalu fanatiklah. Tapi saya anggap ahh mungkin dia cuma anak kecil yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa. Jadi saya pilih gak balas lagi smsnya.

Keesokan harinya, isenglah saya buka Twitter. MasyaAllah, si Didi udah berkoar-koar seakan nyindir gitu. Kesel sih, tapi yaudahlah ya, orang itu twitter dia, jadi yaudah terserah dia mau gimana. Kalau saya gak mau lihat, yaa tinggal block aja, gampangkan???. Mungkin dia hanya ingin meluapkan isi hati yang dia tidak tahu mau meluapkan ke siapa, dan satu-satunya tempat ternyaman meluapkan emosi, meluapkan isi hati memang MEDSOS. So, biarkan dia berkreasi. Toh di blog ini saya juga bisa berkreasi. Hihihi :D:p.


Memang Sengaja Allah melaksanakan gangguan terhadap dirimu dari Manusia,
supaya engkau tidak jinak kepada Mereka. 
Sengaja Allahmenjengkelkan engkau dari segala Sesuatu,
supaya tidak ada sesuatu yang melupakan engkau dari pada Allah.
(Al-HIKAM : Ibnu Atho'illah)

Kamis, 24 Oktober 2013

Penyakit Lama Kambuh

Akhir-akhir ini penyakit lama saya kambuh. Dampak dari banyak pikiran dan kurang tidur sepertinya mendukung kambuhnya penyakit ini. Saya ingat betul, penyakit saya ini selalu kambuh ketika menjelang UAS, menjelang UTS, dan saat-saat dimana saya sedang gandrung dengan buku-buku. Sedangkan akhir-akhir ini, saya bisa pastikan penyakit ini kambuh karena pikiran saya sedang penuh dengan thesis. Ya, thesis benar-benar menguras pikiran saya dengan cantik. Tapi bukan berarti saya tidak suka, justru masa-masa seperti ini adalah masa-masa dimana saya benar-benar merasakan yang namanya manisnya menempuh jejang pendidikan.

Tidur malam gara-gara baca buku, merapikan hasil transkip atau sekedar membuka mata di tempat tidur dengan planning-planning 'besok harus begini, besok harus begitu, besok mau ngelakuin ini, mau ngelakuin itu, besok mau pergi kesini dan pergi kesitu' sepertinya sudah menjadi dinner rutin sebelum tidur. Sungguh melelahkan, tapi gak bisa dipungkiri ini sangat mengasyikkan.

Berbicara mengenai penyakit saya, hanya dua kata yang bisa saya bilang 'cukup aneh'. Kenapa saya bilang aneh? karena saya belum pernah temuin orang lain yang pernah mengalami hal yang sama seperti apa yang saya alami.

Jadi gini, dalam kondisi banyak pikiran, saya itu bisa tidur dengan sangat tenang, tapi pikiran saya tidak. Mungkin saya terlihat tidur pulas, tapi asal tahu aja, pikiran saya ini terusss... saja aktif menari-nari, berjalan-jalan, berlari-lari dengan lincahnya. Dalam kondiris tidur seperti ini, ada dua hal yang mungkin terjadi. Pertama, saya akan memimpikan bacaan-bacaan yang saya baca sebelum tidur. Jadi kalimat perkalimat itu terus muncul dalam otak saya, dia terus berjalan-jalan seperti lampu ucapan 'selamat datang di kota depok' yang letaknya ada di atas jembatan depan Margo City. Ya, bacaan yang saya baca terus muncul seperti lampu itu, muncul dengan terang dan berganti-ganti kalimat. Kemudian yang ke dua, saya memimpikan dua kata dalam bahasa inggris yang sama sekali saya tidak memikirkannya sebelum tidur. Misalnya, seperti kemaren malam, tiba-tiba saya mendapat kata 'singular n plural', padahal sama sekali saya gak mengingat-ingat, sama sekali gak memikirkan atau membaca dua kata ini sebelum tidur. Dua kata ini mungkin terakhir saya pelajari waktu kelas V SD saat saya les bahsa inggris. Selain tiba-tiba muncul kata-kata lama, kadang juga, saya tiba-tiba dapat dua kata baru yang saya belum pernah menghafalnya, kemudian saya bangun dan saya cari di kamus ternyata kata itu ada di dalam kamus. Sempat heran sih. Tapi whateverlah, yang pasti thesis itu seru. Mungkin mulut saya banyak ngeluh dengan thesis ini, tapi hati saya tidak. Sama sekali tidak. :)