Entah lebay, alay, dramatis, atau apapun namanya silakan saja. Hari ini saya ikhlas untuk diklasifikasikan ke kelompok orang-orang alayer, lebayer, atau dramatiser tersebut. Gakpapa.
Saya merasa bahagia sebahagia-bahagianya. Sedikit merasa menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Alhamdulillah. Semua ini cukup untuk membayar urusan pribadi saya yang terbengkalai. Ya, hari ini saya berencana untuk mengurus perpanjangan SKCK. Urusan pribadi. Bukannya mau ngelamar kerja, tapi SKCK sudah jatuh tempo sehingga harus diperpanjang. Sempet saya mikir, kenapa deadline SKCK ini gak enam bulan saja, atau setahun. Kenapa harus empat bulan. Bukankah empat bulan ini waktu yang cukup sempit untuk saya bolak-balik dari RT, RW, Kantor Desa, Polsek, dan Polres, kemudian saya harus mengulangi prosedur yang sama setelah empat bulan berlalu. Capek. Tapi, yasudahlah, namanya juga WNI yang baik, harus mengikuti peraturan yang ada.
Dari semalam saya sudah berencana bahwa urusan perpanjangan SKCK ini harus kelar hari ini, tapi saat saya berada di Kantor Desa, saat saya tengah menunggu surat pengantar dari desa, saya mendapati BBM seorang kawan yang mengatakan harus kumpul di Kantor Pos Tanggul untuk belajar dari Pendamping PKH (Program Keluarga Harapan) Kecamatan Semboro yang hari ini sedang mengurus pencairan uang bantuan KSM (Keluarga Sangat Miskin). Memang, untuk PKH Kecamatan Semboro pencairan uangnya masih melalui Kantor Pos Tanggul. Terbesit dalan pikiran saya "halah, inikan urusan pendamping PKH semboro, bukan urusan saya dong, toh saya ini Pendamping PKH Kecamatan Tanggul, gak datang juga pastinya gakpapa. Gak wajib.
Saya terus menunggu si mas yang lagi sibuk ngetik surat pengantar dari desa. Dua jam berlalu. Lamanyaaaa aaampuuunn. Sepertinya yang lama bukan dalam pembuatan surat pengantar, tapi minta ttd Bapak Kepala Desa. Entah kemana si Bapak Kepala Desa, sampai-sampai si mas yang ngurus surat saya harus bolak-balik tancap motornya melaju entah kemana. Pastinya menemui si Bapak Kepala Desa.
Dalam rentan waktu menunggu itu, saya mulai galau. Saya jadi pergi ke Jember untuk ngurus perpanjangan SKCK atau saya ke Kantor Pos Tanggul aja ya, belajar mendampingi pencairan bantuan dana KSM. Kalau saya gak perpanjang SKCK, sementara SKCK saya sudah jatuh tempo, bisa-bisa saya harus buat SKCK baru dengan prosedur yang lebih ribet dan lama tentunya. Tapi, kalau saya gak belajar mendampingi pencairan dana KSM, saya bisa buta nantinya ketika saya telah benar-benar bertugas di lapangan. Sedangkan kalau saya buta, bisa-bisa KSM tak terlayani dengan baik dan bisa merugikan mereka. Halah makkk. Dilema.
Finally, saya ambil HP yang saya letakkan jauh didasar tas. Saya langsung BBM kawan saya yang sudah berada di Kantor Pos sejak satu jam yang lalu, "mbak, aku nggak jadi ke Jember deh, aku ke Kantor Pos aja. Entar habis surat pengantar dari desa selesai, aku ke Polsek dulu bentar, abis itu cus deh langsung ke Kantor Pos". Tak lupa saya update status BBM untuk meyakinkan diri saya bahwa keputusan saya benar (hehehe), "Saat kepentingan pribadi berbenturan dengan kepentingan orang banyak, memilih untuk menyelesaikan kepentingan orang banyak kadang terasa lebih nikmat". Semoga.
Sesampainya di Kantor Pos, saya melihat sudah berjubel para ibu, ada juga beberapa orang bapak, katanya mereka mewakili istrinya yang tidak bisa hadir. Haduh, terenyuh saya. Tersentuh. Melihat wajah-wajah mereka. Wajah yang rela capek menunggu antrian yang begitu panjang demi uang yang kaum borju pasti bilang tak seberapa jumlahnya. Uangnya mau dibuat berbuka nanti katanya. Mengharukan.
Sesuai prosedur yang ada, mereka duduk antri menunggu panggilan. Setelah dipanggil, tinggal nyerahin Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP), lalu cap jempol di kertas ini dan itu, beres deh. Uang pun mereka terima.
Saya merasa senang. Memanggil nama mereka, meraih jari jempolnya, lalu mengarahkan jempolnya ke tinta dan menekannya di beberapa kertas. Gitu aja kerjaan saya tadi. Tapi, lebih dari itu, saya merasa senang bisa tersenyum melayani mereka, dan mendapati balasan senyum mereka itu ibarat meneguk sejuknya air di tengah panas dan dahaganya siang tadi. Aihhh, indahnyaaa. Kok bisa ya, gitu aja saya udah kepalang senang. Selama ini saya kemana???
Memang, hari ini benar terasa berbeda. Jika sebelumnya saya bekerja untuk kesejahteraan orang-orang kaya, lebih tepatnya untuk urusan akademik para Mahasiswa Dokter Spesialis dan juga mengurusi urusan honor mengajar dosen yang notabene juga para Profesor Doktor Dokter Spesialis, hari ini saya mengurusi Keluarga Sangat Miskin. KSM. Yang mana pendidikan, kesehatan, masih asing bagi mereka. Ada tebing yang curam antara pekerjaan saya sebelumnya dengan yang sekarang. Benar-benar berbeda. Namun, saya bersyukur pernah merasakan bekerja untuk keduanya. Saya menikmati melayani keduanya. Tapi, saya merasa lebih berguna dan lebih dibutuhkan dengan pekerjaan saya yang sekarang. Karena yang membutuhkan saya kali ini bukan orang yang serba berkecukupan sosial dan ekonominya, tapi mereka yang sangat kekurangan. Mereka yang bisa dikata jauh dari 'sejahtera'.
Ini benar pelajaran buat saya. Saya emang mahluk sosial, kuliah aja jurusan sosial, tapi saya sama sekali kurang pergaulan, gak sosial. Mungkin Allah nempatin saya di posisi pekerjaan ini agar saya lebih banyak belajar. Belajar menjadi mahluk yang benar-benar sosial. Belajar mengenai arti kehidupan. Belajar menjadi orang yang berguna, terutama bagi mereka yang benar-benar membutuhkan.
Namun, memang sih, masih ada rasa kecewa saat saya di Kantor Pos tadi. Dari sekian KSM, ada yang bawa motor bagus (ahh, mungkin pinjem), ada juga yang jari tangannya dilingkari dengan yang tidak hanya satu, begitu juga dengan pergelangan tangannya (cincin dan gelang, gak mungkin pinjamkan?). Dari sini, saya bisa menyimpulkan, bahwa kami punya PR besar, PR besar untuk mengupayakan program Kementrian Sosial RI ini tepat sasaran. Agar menyentuh mereka yang benar membutuhkan, bukan sekedar bermental kekurangan atau bertopeng kemiskinan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar