Label

Kamis, 29 November 2012

TOLERANSI MEMUDAR, INTOLERANSI MERADANG


Tugas Mata Kuliah : Etika Pembangunan

Bukan identitas yang membuat kita berteman,
yang menyebabkan kita semua bisa berteman adalah modal, modal yang tidak mahal adalah modal sosial, karena di dalam modal sosial itu ada sebuah kepercayaan antar teman, menjalin silaturrahmi sebagai kewajiban, dan memperkuat kesamaan dalam perbedaan.
 Itulah kunci membangun kohesi sosial dan kesalehan sosial dalam sebuh keberagaman. (Francis Fukuyama)

Indonesia merupakan Negara yang heterogen. Heterogenitas tersebut dapat dilihat dari struktur masyarakat Indonesia. Struktur masyarakat Indonesia ditandai dua ciri yang bersifat unik. Secara horizontal, ditandai kenyataan adanya kesatuan sosial berdasarkan perbedaan-perbedaan suku bangsa, agama, adat serta kedaerahan. Sedangkan secara vertikal struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh adanya perbedaan-perbedaan vertikal antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam. Perbedaan-perbedaan ini menunjukkan bahwa ciri masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk. Kemajemukan ini dapat bernilai positif yaitu memperkaya kebudayaan Indonesia, namun tidak jarang juga justru menimbulkan persoalan-persoalan baru bagi masyarakat Indonesia. Persoalan yang paling pelik dengan kemajemukan masyarakat Indonesia ini yaitu persoalan Intoleransi.
Intoleransi adalah suatu pembatasan diri atau kelompok terhadap yang berbeda dengan segala yang berkaitan dengan diri dan kelompok tersebut, serta menolak yang berbeda bahkan yang lebih parah dari sekedar menolak yaitu memaksakan kepada mereka yang berbeda agar sama dengan diri ataupun kelompok. Contohnya : kekerasan yang dilakukan oleh orang sampit  terhadap pendatang yaitu suku madura, atau pengeboman terhadap rumah-rumah ibadah. Kasus-kasus yang tengah terjadi di Indonesia ini menjadi kerawanan tersendiri atas keutuhan dan kesatuan Bangsa Indonesia. Bahkan, Lembaga Survey Indonesia (22 oktober 2012), telah mengakumulasikan bahwa 50 persen warga Indonesia merasa tidak nyaman hidup berdampingan dengan yang berbeda pemahaman ideologis. Dari survei tersebut juga ditemukan, lebih dari 80 persen responden merasa tidak nyaman hidup berdampingan dengan kelompok penyuka sesama jenis. Sementara itu, mereka yang mengaku tidak merasa nyaman bertetangga dengan yang berbeda keyakinan adalah 15 persen. Kenyataan ini merupakan suatu tayangan kepada kita bahwa intoleransi di Indonesia memang semakin meradang. Oleh karena itu, prosentase jumlah meningkatnya intoleransi di Indonesia ini tidak sepatutnya hanya sekedar menjadi wacana yang kemudian hilang begitu saja tanpa ditelaah sebabnya.
“Tidak ada asap jika tidak ada api”, begitulah kata pepatah. Begitu pun dengan meningkatnya intoleransi di Indonesia. Meningkatnya intoleransi merupakan akibat yang tidak muncul dengan sendirinya, ada sebab-sebab yang menyebabkan intoleransi meningkat. Sebab-sebab tersebut yaitu :
  1. Sistem Demokrasi
Demokrasi yang dipilih menjadi system pemerintahan di Indonesia ternyata berkontribusi dalam meningkatkan intoleransi. Dengan system demokrasi, partai politik menjadi semakin membludak. Kemudian, partai-partai tersebut saling bersaing untuk mendapatkan kekuasaan. Sedangkan, individu-individu yang berada dalam partai merasa mempunyai ikatan yang kuat dengan individu-individu yang satu partai. Ikatan tersebut terus dipupuk dengan adanya kepentingan dan tujuan yang sama, sehingga memunculkan solidaritas yang tinggi terhadap satu partai tersebut, namun mereka akan memicingkan mata terhadap mereka yang berbeda partai, dan menganggap yang berbeda partai adalah lawan yang harus dikalahkan.
  1. Fanatisme Golongan/Organisasi
Sikap fanatis terhadap golongan atau organisasi juga menyumbangkan poin tersendiri terhadap meningkatnya intoleransi. Tidak hanya lintas agama, akan tetapi satu agama yang berbeda organisasi pun sering memunculkan permasalahan. Sebut saja NU dan Muhammadiyah. Sebenarnya, keduanya merupakan organisasi, namun masyarakat sering menempatkan NU dan Muhammadiyah setingkat dengan agama, padahal tidak ada agama NU dan tidak ada agama Muhammadiyah. Tetapi, ketika terjadi perbedaan antara keyakinan keduanya, seperti berbeda penetapan tanggal hari raya iedul fitri maka akan terjadi saling menghina. Ironisnya, hal ini tidak hanya terjadi dikalangan masyarakat awam, tetapi, dalam sidang isbat, dapat terlihat bahwa pemuka agama juga tidak dapat menunjukkan sikap toleransi yang sutuhnya.
  1. Pemimpin tidak memberi contoh
Pemimpin merupakan sosok yang selalu dijadikan kamus oleh masyarakat. Artinya, dalam setiap dinamika yang terjadi di masyarakat maka masyarakat akan memandang pemimpin sebagai tokoh utama. Apa yang dilakukan oleh pemimpin maka akan disorot dan dinilai oleh masyarakat. Ketika pemimpin melakukan suatu tindakan, maka akan ada yang pro dan kontra. Mereka yang kontra akan melawan pemimpin dan tidak mengikuti jejak pemimpin, sedangkan mereka yang pro maka akan mengamini tindakan pemimpin dan mengikuti apa yang dilakukan pemimpin. Dalam kasus intoleransi, nampaknya pemimpin juga tidak dapat memberikan contoh kepada masyarakat bagaimana bersikap toleran terhadap orang atau kelompok lain yang berbeda dengannya. Dapat dilihat di media, sering kali pemimpin-pemimpin kita saling menyindir gagasan antara tokoh yang satu dengan yang lainnya.
Dari pemaparan sebab-sebab meningkatnya intoleransi yang telah saya sebutkan, dapat dirumuskan formula seperti artelnatif solusi sebagai berikut :
  1. Sistem Demokrasi yang memunculkan banyak partai di Indonesia tidak seharusnya membuat masyarakat Indonesia menjadi terkotak-kotak. Oleh karena itu, Pancasila khususnya sila ketiga sebenarnya menjadi kontrol bagi masyarakat untuk tetap menjunjung tinggi sikap toleransi, sehingga persatuan dan kesatuan Indonesia tetap kokoh.
  2. Penanaman, Pemahaman, dan Penerapan serta Pengahayatan terhadap nilai-nilai Bhineka Tunggal Ika. Jadi, hendaknya sejak usia dini, anak sudah harus ditanamkan oleh orang tua dan guru tentang nilai-nilai bhineka tunggal ika. Sehingga sejak kecil, anak sudah tahu bagaimana cara menghargai yang berbeda dengannya. Selain itu, pemerintah juga tidak boleh melakukan pembiaran terhadap sikap-sikap yang terwujud karena adanya intoleransi. seperti kekerasan dan kriminalitas yang dilakukan sekelompok tertentu terhadap kelompok yang berbeda. Perlu ada tindakan tegas terhadap sikap-sikap nseperti itu.
  3. Pemimpin memberikan contoh
Pemimpin, dalam hal ini pemerintah, memberikan kontribusi yang cukup besar dalam membentuk karakter masyarakat. Oleh karena itu, pemimpin hendaknya memberikan contoh kepada masyarakat dengan tidak membedakan antara kelompok masyarakat yang satu dengan yang lain. Selain itu, para pemimpin atau tokoh masyarakat juga harus memberikan contoh bagaimana mereka menghargai kelompok-kelompok yang berbeda dengan mereka, bukan justru menanamkan fanatisme kepada masyarakat sehingga masyarakat menjadi terkotak-kotak. Jika pemimpin mampu bersikap toleransi terhadap seluruh lapisan masyarakat maka akan sangat dimungkinkan bahwa masyarakat akan mencontoh sikap pemimpin tersebut. (sistem patron klien berlaku)
            Untuk mewujudkan sikap toleransi masyarakat Indonesia memang tidak mudah. Akan tetapi, kata “tidak mudah” bukan berarti “tidak bisa”. Oleh karena itu, kita hanya butuh keyakinan bahwa “Kita Bisa…!!!”. 

Selasa, 27 November 2012

BECAUSE I'm Yours

Tuhan, Engkau pertemukan ayah dan ibuku dan membuatnya satu
Kau percayakan keduanya dengan kehadiranku
lalu, keduanya pun menimangku
mereka berkata mereka sayang aku
tapi, mereka pun berkata bahwa Kau lebih menyayangiku

Tuhan, aku tak sadar bagaimana aku bisa tumbuh seperti ini
seingatku, beberapa waktu yang lalu aku masih sepinggang ayah ibu
namun sekarang, aku bisa menatap lurus mata indah ibu

aku tak bisa rincikan kapan aku tumbuh
aku tak tahu kapan centi demi centi bertambah pada tubuhku
kapan kilo ber kilo menambah berat badanku
mungkinkah saat aku tidur Kau memanjangkan kakiku?
atau menambah berat badanku?

aku tak tahu...

Tuhan, saat aku menulis, sering aku tercengang dengan huruf-huruf yang keluar dari penaku
bagaimana Kau menuntun jariku?
sejak kapan Kau membuatku dapat menggerakkan jari-jariku dan menulis sesuatu?
seingatku, beberapa waktu lalu ayah masih memegang erat jariku untuk mengukir namaMu

aku juga terkagum dengan rangkaian kata yang keluar dari mulutku
bagaimana Kau membuat mulutku mampu mengatakan sesuatu?
kapan Kau membentuk mulutku hingga meluncur deras rangkaian a, i, u
seingatku, beberapa waktu lalu, aku masih terbata mengucap kata i-bu

Tuhan, nikmatMu untukku benar-benar diluar logikaku
kasihMu diluar nalarku

Kau penuhi butuhku, kau lindungi diriku

Oleh karena itu, atas namaku dan segalaku
kuserahkan padaMu
karena aku adalah milikMu




Minggu, 18 November 2012

TEORI BEHAVIORISME

Tugas Mata Kuliah : Dinamika Prilaku Manusia

Teori behavioristik adalah sebuah teori tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Contohnya, terdapat seorang pemuda yang setiap pagi selalu menjadi penumpang KRL ke 
Sekolahnya. Dia selalu menjadi penumpang atapers (penumpang KRL yang duduk diatas atap KRL). Kemudian, suatu saat pemuda ini tergelincir dan hampir jatuh. Mendapati pengalaman semacam ini, pemuda tersebut agak shock dan langsung turun. Keesokan harinya hingga saat ini, pemuda tersebut 
tidak lagi menjadi atapers. Ketika salah seorang bertanya kepadanya mengapa dia tidak lagi menjadi penumpang atapers, dia sontak menjawab ‘saya kapok pak’.  
Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antaranya adalah Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner.
            Teori Belajar Menurut Thorndike
Menurut Thorndike, belajar adalah merupakan suatu proses yang berhubungan dengan stimulus dan respon. Stimulus merupakan rangsangan sedangkan respon adalah sutu tindakan drai stimulus. Jadi, belajar merupakan suatu respon yang berupa tindakan yang diakibatkan dari adanya rangsangan atau stimulus. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme. Ada tiga hukum belajar yang utama, menurut Thorndike yakni (1) hukum efek; (2) hukum latihan dan (3) hukum kesiapan. Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana hal-hal tertentu dapat memperkuat respon.
             Teori Belajar Menurut Watson
Watson hamper sama dengan Thorndike yang menggambaran belajar sebagai suatu respon dari stimulus yang diterima individu. Namun, Watson menegaskan bahwa stimulus dan respon tersebut harus dapat di ukur. Sedangkan, bagaimana cara mengukur stimulus dan respon tidak dibahas olehnya. 
Teori Belajar Menurut Clark Hull
Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian belajar. Namun dia sangat terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin. Hull lebih memfokuskan bahwa tingkah laku manusia berubah sesuai dengan kebutuhan biologisnya.
            Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie
Belajar merupkan gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan. Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karena itu respon harus terus-menerus diberikan. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang.
            Teori Belajar Menurut Skinner
Konsep-konsep yang dikemukanan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun lebih komprehensif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan memengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya memengaruhi munculnya perilak. Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah. Sebab setiap alat yang digunakan perlu penjelasan lagi, demikian seterusnya. Teori yang dikemukakan oleh Skinner ini terkanal dengan sebutan Teori Neo Behaviosrisme. 

Minggu, 11 November 2012

TEORI PSIKODINAMIKA MENURUT BERBAGAI AHLI

Tugas Mata Kuliah : Dinamika Prilaku Manusia

Teori psikodinamika adalah teori yang berusaha menjelaskan hakikat dan perkembangan kepribadian. Psikodinamika pada awalnya dikembangkan oleh Sigmund Freud (1974) dan pengikut-pengikutnya. Dikatakan psikodinamik, karena teori ini didasarkan pada asumsi bahwa perilaku berasal dari gerakan dan interaksi dalam pikiran manusia, kemudian pikiran merangsang perilaku dan keduanya saling mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Freud berpendapat bahwa perkembangan jiwa atau kepribadian seseorang ditentukan oleh komponen dasar yang bersifat sosio-efektif, yakni ketegangan yang ada di dalam diri seseorang itu ikut menentukan dinamikanya ditengah-tengah lingkungannya. Sehingga freud membagi struktur kepribadian atau jiwa seseorang menjadi tiga yaitu:
a)Id (das es) bisa dikaitkan dalam islam dengan nafsu.
b)Ego (das ich) bisa disebut juga dengan akal.
c)Superego (das ueber es) bisa disebut dengan hati nurani.
Setelah membagi struktur jiwa manusia kedalam tiga struktur, freud membagi tahapan-tahan perkembangan manusia menjadi lima. Yaitu :
a.Tahap oral atau tahap mulut : Tahap ini berlangsung dari usia 0 sampai 18 bulan. Titik kenikmatan terletak pada mulut, di mana aktivitas paling utama adalah Mengunyah, menghisap dan menggigit. Tindakan-tindakan ini mengurangi tekanan/ketegangan pada bayi.
b.Tahap anal : Tahap ini ini berlangsung antara usia 1 dan 3 tahun. Titik kenikmatan terbesar terletak pada lubang anus, atau fungsi pengeluaran yang diasosiasikan dengannya. Dalam pandangan Freud, latihan otot lubang dubur mengurangi tekanan/ketegangan.
c.Tahap phallic : Phallic berasal dari bahasa latin phallus yang berarti alat kelamin laki-laki. Tahap ini berlangsung dari usia 3 dan 6 bulan. Titik kenikmatan terletak pada alat kelamin, ketika anak menemukan bahwa manipulasi (self manipulation) diri dapat memberi kenikmatan. Dalam tahap ini, Freud berpandangan bahwa bahwa tahap phallic memiliki kepentingan khusus dalam perkembangan kepribadian. Karena selama periode inilah Oedipus complex muncul. Istilah ini berasal dari mitologi Yunani, di mana Oedipus, putra Raja Thebes, tanpa sengaja membunuh ayahnya dan menikahi ibunya. Oedipus complex adalah konsep Freud dimana anak kecil mengembangkan suatu keinginan yang mendalam untuk menggantikan orang tua yang sama jenis kelamin dengannya dan menikmati afeksi dari orang tua yang berbeda jenis kelamin dengannya. Tetapi konsep ini dikecam oleh beberapa pakar psikoanalisis dan penulis. Pada usia kira-kira 5 hingga 6 tahun, anak-anak menyadari bahwa orang tua yang sama jenis kelamin dengannya dapat menghukum mereka atas keinginan incest mereka (incestuous wishes). Untuk mengurangi konflik ini, anak mengidentifikasikan diri dengan orang tua yang sama jenis kelamin dengannya, dengan berusaha keras menjadi seperti orang tua yang sama jenis kelamin dengannya itu. Namun, bila konflik tidak teratasi, individu dapat terfiksasi pada tahap phallic.
d.Tahap laten : Tahap ini ini berlangsung antara usia 6 tahun dan masa pubertas. Anak menekan semua minat terhadap seks dan mengembangkan keterampilan social dan intelektual. Kegiatan ini menyalurkan banyak energy anak ke dalam bidang-bidang yang aman secara emosional dan menolong anak melupakan konflik pada tahap phallic yang sangat menekan.
e.Tahap kemaluan : Tahap ini berawal dari masa pubertas dan seterusnya. Tahap kemaluan ialah suatu masa kebangkitan seksual. Sumber kenikmatan seksual sekarang adalah seseorang yang berada di luar keluarga. Freud yakin bahwa konflik yang tidak teratasi dengan orang tua terjadi kembali selama masa remaja. Bila teratasi, individu mampu mengembangkan suatu hubungan cinta yang dewasa yang berfungsi secara mandiri sebagai seorang dewasa.
Melengkapi teori psikoanalisis Freud, banyak dari pendekatan psikodinamik yang lain yang telah dikembangkan termasuk teori neo-Freudian seperti Erick Erikson, Alfred Adler, Carl Jung, Harry Stack Sullivan, Otto Rank, dan Wilhelm Reich, dan teori objek-hubungan, seperti Melanie Klein, Heinz Kohut, dan Margaret Mahler. Meskipun mereka berangkat secara signifikan dari teori Freud, namun semua pendekatan psikodinamik berfokus pada bagaimana faktor-faktor lain berjalan dan memotivasi klien, bagaimana masa lalu berperan dalam pembentukan kepribadian, bagaimana kita secara sadar dan tidak sadar mempengaruhi perilaku, dan bagaimana menggabungkan kekuatan-kekuatan ini dengan cara yang rumit untuk membentuk dan untuk menentukan tingkat tertentu kepribadian individu.
Teori Perkembangan Anak Perspektif Psikodinamika Erikson Teorinya yang paling terkenal adalah Erikson’s Ego Psychology yaitu teori perkembangan kepribadian yang mirip dengan karya Freud, namun bedanya bahwa Erikson menerapkan teori ini dalam konteks psikososial, menambah sejumlah tahapan lagi, dan menekankan faktor ego daripada Id. Erik Erikson mengatakan bahwa terdapat delapan tahap perkembangan terbentang ketika kita melampaui siklus kehidupan. Masing-masing tahap terdiri dari tugas perkembangan yang khas dan mengedepankan individu dengan suatu krisis yang harus dihadapi. Bagi Erikson, krisis ini bukanlah suatu bencana, tetapi suatu titik balik peningkatan kerentanan dan peningkatan potensi. Semakin berhasil individu mengatasi krisis, akan semakin sehat perkembangan mereka.
Psikologi Analitik Jung Carl Jung pada awalnya adalah salah satu sahabat terdekat Freud dan anggota lingkaran koleganya, tetapi pertemanan mereka berakhir dalam pertengkaran tentang ketidaksadaran.  Menurut Jung, di samping ketidaksadaran individual, manusia memiliki ketidaksadaran kolektif yang mencakup ingatan universal, simbol-simbol, gambaran tertentu, dan tema-tema yangdisebutya sebagai arketipe.
Terapi Adlerian Adler percaya bahwa pengalaman anak usia dini sangat mempengaruhi perkembangan kepribadian selanjutnya, ia menduga bahwa pengalaman-pengalaman seperti itu sangat ditengahi oleh dorongan sosial daripada naluri seksual atau naluri agresif. Bawah sadar dipandang lebih sebagai kekurangsadaran seseorang yang melindungi harga diri, lawan dari pandangan psikoanalitik klasik sebagai sebuah mekanisme untuk melindungi diri dari dorongan naluriah. Selain itu, Adler percaya bukan itu yang terjadi di masa lalu yang mempengaruhi perilaku, tetapi memori dan penafsiran dari apa yang terjadi. Adler mengemukakan bahwa kita semua mengembangkan gaya hidup yang berusaha untuk mengkompensasi perasaan rendah diri bawaan. Cara hidup ini didasarkan pada persepsi kita masa lalu kita, khususnya bagaimana kita menganggap diri kita dalam konstelasi keluarga kita. Perasaan rendah diri memotivasi kita ketika kita berusaha untuk mengatasi mereka dan ketika kita berusaha untuk perasaan superioritas dan kesempurnaan. Seperti dengan perasaan rendah diri, Adler merasa bahwa semua individu memiliki sebuah perjuangan untuk superioritas, yang didefinisikan sebagai keinginan untuk mencapai dan melakukannya dengan baik dalam hidup. Adler percaya bahwa kita sering menjadi korban dari asumsi yang salah tentang kehidupan kita yang didasarkan pada persepsi palsu atau tidak akurat di masa lalu dan yang akhirnya mempengaruhi pilihan yang kita buat dalam hidup. Namun, berbeda dengan Freud, Adler merasa bahwa melalui proses terapeutik individu dapat dipahami gaya hidup mereka dan asumsi yang salah dan membuat perubahan yang dramatis.
Pendekatan Hubungan Obyek Mahler Margaret Mahler menganut pendekatan hubungan objek pendekatan ke terapi, yang percaya bahwa elemen penting dalam pembentukan kepribadian adalah cara di mana bayi dan anak kecil terpisah dan terisolir dari pengasuh utama dalam beberapa tahun pertama kehidupan. Pendekatan ini, tidak menempatkan tekanan pada id sebagai penyimpan seksual dan naluri agresif seperti yang dilakukan psikoanalis tradisional. Sebaliknya, teori hubungan objek memandang gerak hati itu sebagai “selera.” Ini menunjukkan bahwa pada waktu kita mungkin memiliki keinginan untuk menjadi agresif atau seksual, tapi kami tidak menekan kompor, karena untuk melepaskan energi seperti jika gerai yang layak tidak ditemukan. Dengan kata lain, kita tidak didorong oleh yang disebut naluri. Tidak menekankan tahapan psikoseksual Freud, Mahler dan teoritikus hubungan obyek yang lain merasa bahwa realitas yang erat dihubungkan dengan bagaimana seseorang memisahkan dari pengasuh utama.
Konseling Berpusat pada Orang Rogers percaya bahwa orang-orang memiliki kecenderungan aktualisasi,dan jika ditempatkan dalam lingkungan perawatan, akan berkembang menjadi sadar sepenuhnya, memfungsikan diri sepenuhnya. Namun, terlalu sering, Rogers mendalilkan, proses perkembangan alami individu digagalkan sebagai kondisi tempat lain yang bernilai pada orang. Karena orang memiliki kebutuhan yang kuat untuk dapat dianggap positif oleh orang lain, dia mungkin bertindak tidak wajar, cara yang tidak nyata dan mengembangkan kesadaran diri menyimpang untuk memenuhi kondisi yang berharga tersebut. Terapi, kata Rogers, menawarkan kesempatan individu untuk mewujudkan peningkatan rasa kesesuaian dengan seseorang diri sejati dan mencapai pengertian yang lebih realistis dari apa yang disebut Rogers sebagai diri ideal, atau diri kita berjuang untuk  eksis.

Jumat, 09 November 2012

~> R A P U H <~



Tuhan, aku sering berkata bahwa aku mencintaiMu
Segenap jiwa dan raga, aku selalu berusaha untuk menjalankan mauMu
dan menjauhi langkah-langkah yang dapat menjauhkanku dariMu
Namun, aku terlalu lemah untuk tetap lurus dijalanMu
Ku katakan aku selalu bersyukur tetapi kadang masih ada terbesit rasa keluh
Ku katakan aku selalu rindu padaMu tetapi kadang aku lalai dariMu

Tuhan, aku cukup rapuh untuk mengokohkan imanku
Aku tidak terlalu kuat untuk melewati syetan-syetan yang selalu mengganguku 
dan merayuku untuk mengulur sholatku
Mengutamakan kuliahku di waktu isya'ku...
Mengutamakan kerjaku di waktu dhuhaku...

Tuhan, aku tidak berdaya untuk mengikat nafsuku
Lebih mengutamakan tidurku dari pada bangun malamku
Aku menyesal Tuhan, sangat menyesal..
Tapi lelahku kadang benar-benar membuatku terkungkung dalam selimut tebal
Hingga sepertiga malamku hilang...

Tuhan, dihatiku benar-benar hanya menginginkanMu
dijiwaku hanya ada Engkau...
Gelarku tanpaMu tiada guna...
Hartaku tanpaMu tiada harga...

Maafkan aku Tuhan,
dan kumohon berilah aku kekuatan untuk menghadirkanMu S E L A L U
dalam duniaku..., di jiwa ragaku
Aku mencintaiMu, dan hanya mengharapkanMu.

Kamis, 08 November 2012

Dilemma 'Orang Keuangan'

Selamat pagi Angka, Selamat siang Angka, Selamat sore Angka...

Ya, setiap hari selalu berkutat dengan angka-angka
Pusing, karena itu bukan bidang saya
Puyeng, karena saya dulunya benci matematika

Angka, tak hanya berjuta tapi bermilyar angka
Sayangnya, angka-angka hanya lewat dalam kalkulasi pikiran saya
Tanpa bersedia sejenak pun mampir dalam kantong usang saya

Angka, angka, lagi-lagi angka...
Rasanya, ingin terbebas dari kerja angka, dan kembali ke habitat saya

Namun, saya bukan cewek cengeng yang mudah menyerah hanya karena Angka
Biar bagaimanapun, Saya harus bersyukur dipertemukan dengan kerja Angka
Saya harus berhusnudzan kepadaNya
Karena segala yang terjadi di dunia, telah diatur olehNya
Saya percaya ada hikmah dibalik semuanya
Karena segala yang diatur olehNya adalah yang terbaik untuk hambaNya
dan aku adalah hambaNya

Oleh karenanya,
KepadaNya yang telah membuat saya dan segala tentang saya serta hidup saya
Terimakasih atas segalanya :)

Rabu, 07 November 2012

Pembangunan Sosial

Tugas Mata Kuliah : Pembangunan Sosial

Bicara tentang Pembanguanan Sosial maka yang perlu dipahami terlebih dahulu adalah bahwa Pembangunan Sosial bukan merupakan suatu strategi atau metode dan bukan juga merupakan Teori. Jika ada mahasiswa menulis dalam lembar jawaban ujian dengan menyebut 'Teori Pembangunan Sosial' maka sudah dipastikan bahwa lembar tersebut akan dicoret dosen dengan coretan besar. Mengapa? karena itu Pernyataan yang Sangat Salah.

Pembangunan Sosial bukan suatu Teori, dia adalah sebuah perspektif, cara pandang, dapat juga disebut sebagai paradigma.

Pembangunan Sosial merupakan proses perubahan sosial terencana yang dirancang untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, dimana pembangunan dilakukan saling melengkapi dengan proses pembangunan ekonomi. Jadi, Pembangunan Sosial bukan merupakan suatu formula yang rumit untuk dibicarakan (tapi belum tentu mudah dilakukan). Pembangunan Sosial adalah masalah sosial yang dipertemukan dengan sumber daya.  Masalah Sosial dan Sumber daya ibaratnya seperti dua telapak tangan yang saling bertepuk. Jika kita ingin menghasilkan suara yang keras dari tepuk tangan maka kedua telapak tangan tersebut harus saling bertemu. Suara tepuk tangan tidak akan terdengar keras jika satu tangan menepuk, sedangkan tangan yang satunya diam. Suara tepuk tangan juga tidak akan dihasilkan jika kedua telapak tangan hanya bersentuhan tanpa ada tenaga untuk menepuk. Suara tepuk tangan juga tidak akan terdengar jika kedua telapak tangan di gerakkan namun tidak dipertemukan (silahkan dicoba) :D. Jika dirumuskan dalam tema matematika maka hasil rumusannya seperti ini :


Masalah Sosial + Sumber Daya = Pembangunan Sosial

Untuk mempermudah memahami konsep Pembangunan Sosial, dapat dirumuskan konsep sebagai berikut :
1. Pembangunan Sosial adalah melengkapi upaya-upaya pelayanan sosial dengan memanfaatkan sumber daya, atau
2. Pembangunan Sosial adalah sumber daya yang dimanfaatkan untuk motivasi-motivasi sosial

Dengan demikian, Pembangunan Sosial harus bersinergi dengan Pembangunan Ekonomi. Artinya, bukan berarti Pembangunan Sosial tidak butuh modal, justru Pembangunan Sosial memerlukan modal, modal tersebut disebut sebagai sumber daya. Sumber daya yang dapat dimanfaatkan dalam Pembangunan Sosial dapat berupa finansial, potensi lokal, dll.

The Finally Story about Him

Finally, you marry with someone whom i don't know her. 
If you ask me how about my feel? i can ask you that i'm fine. 
Yes, my mouth can say that surely. 
But, rightly in my deep heart, i feel not good. 
You, you were my first love. 
You teach me about love, you come to me n made me fool because of missed you. 
Actually, i was angry with your doing to me. 
Although that was happened at the long time ago, but i can't forgive you fully.

But, i respect with your sms to me. 
You witness that you have done wrong and you ask my forgiveness. 
You said that you wouldn't forget me because i made your life happiness. 
You said the day when you with me together was beautiful days. 
Hufft,, i don't understand why you said like that. May be, you just tried to amuse me.

Now, i'll pray to you n your wife. 
Congratulation with you marrying, God bless you. 

Senin, 05 November 2012

Guru Semalam

Sejak di kota ini, baru malam tadi malam terasa amat panjang. Malam yang penuh dengan Pengalaman. Bagaimana tidak? Malam tadi benar-benar membawa aku pada suatu cerita yang berlawanan dari keseharian yang kulihat. Ini bukan malam yang biasa, karena aku benar-benar bersentuhan langsung dengan malam Jakarta.

Semua berawal dari Tugas kerja Malida. tahukah kau siapa Malida? kawanku, dia seorang kawan yang sedang mendapat mandat tugas mulia untuk bersentuhan langsung dengan si kecil tak beruntung. mereka sering menyebutnya 'Anak Jalanan'. Saat mendapat tugas itu, Malida ragu. mungkin rasa takut sesejenak menyelinap dalam hatinya. Bayangkan saja, di daerah yang asing dia harus berdiri sendirian di kegelapan malam. Jika aku diposisinya bisa jadi aku lebih takut dari yang dia rasakan. Berkali-kali dia mencari alasan untuk tidak melaksanakan tugasnya. Dari alasan hujan, sendirian, bahkan gak enak badan sudah terpikirkan. Sesekali dia bilang "malida lebih suka bilang gak enak badan dari pada sakit, karena sakit itu beda dengan gak enak badan", Tepat, aku setuju tentang perbedaan itu. 

Memang, sore itu cuaca depok sangat bersahabat untuk tidak memungkinkan Malida pergi. jauh kawan, daerah Fatmawati lumayan jauh dari depok. Namun tak dinyana, sepuluh menit sebelum jam H (biasanya orang pake kata hari H untuk menunjukkan hari teng pelaksanaan kegiatan. sedangkan Jam H artinya Jam teng pelaksanaan kegiatan) hujan berhenti total. Malida yang tadinya tersenyum dengan hujan kini raut mukanya mulai masam. yah, aku sadar, hujan yang berhenti sudah tidak dapat dijadikan alasan. Melihat muka kawanku yang agak masam itu, aku coba menawarkan suatu formula :

Belgis : "Mal, gimana kalau aku ikut? tapi dengan Wirda atau Mbak Andy ya? atau Ria? kalau cuma berdua aku takut, tapi kalau bertiga aku mau"
Malida : "Beneran belgis? yakin?"
Belgis : "Iya, aku sms Wirda n Ria dulu ya"

Sambil menunggu jawaban sms kedua temanku yang tak kunjung datang, ku langkahkan kaki kekamar sebelah :
Belgis : "Mbak Andy, mau ikut Malida nggak?"
Mbak Andy : "kemana?"
Belgis : "Ke daerah Fatmawati, mangkal disana, pdkt-in anak jalanan, gimana mbak?"
Mbak Andy : "mauuu, ayuuukk, berangkat sekarang ayukk" (dengan penuh semangat) 

Setelah sholat maghrib kami berangkat. Deborah membawa kami menyusuri malam, Deborah benar-benar menyeret kami keluar dari hiruk pikuk kebingaran kota. Sedikitpun mataku tak mau diam, dia melahat lurus jauh kedepan, kekanan, kekiri jendela Deborah, dengan mata telanjang kuarahkan sejauh mata memandang.

Malida, Mbak Andy, dan Aku, siap memulai petualangan.

Kami masih asing dalam 15, 20, 25 menit diatas Deborah. Kami tahu pasti tujuan kami perempatan Fatmawati, namun kami tak tahu dimana tempat itu. Satu yang kami tahu, ke Fatmawati naek Deborah. ya, hanya itu saja. 35 menit berlalu, tiba-tiba abang kenek meneriakkan nama Rumah Sakit tempat kita tuju "Rumah Sakit Fatmawati, Rumah Sakit Fatmawati". Kami bergegas turun, karena dikasih tambahan gratis perjalanan pun oleh Deborah kami tak akan mau. Malida memulai aksinya, beuhhh... manteb bener kawanku ini, dia yang tadinya ragu untuk mendatangi tempat ini, tak disangka setelah menginjakkan kaki diperempatan jalan ini, dia seakan menjelma menjadi sosok pri. pantaslah dengan balutan kostum yang sedang dia kenakan, sepatu kets, celana jins, jaket merah, jilbab merah, dan kaos hitam yang dengan jelas tertuliskan identitas "Pekerja Sosial"

Dengan sigap namun penuh kelembutan Malida mendekati anak jalanan itu. "namanya siapa sayang? kok jam segini masih ada dijalanan?" berbagai pertanyaan lembut dan penuh kasih sayang dia lontarkan. 1,2,3, dan 9 dan lebih dari sembilan mereka mendekati kami. Mereka tersenyum, tertawa, mengatakan hal-hal lucu, bercerita ini-itu, dan ada yang hanya terdiam. mereka masih kecil, sangat kecil. Dalam tubuh mungilnya mereka harus berjuang, menjajakan suaranya dijalan demi uang recehan, membuka matanya  hingga larut dalam kelelahan. Kasihan, mereka sungguh kasihan. Aku bertanya pada Mbak Andy "Mbak, gimana ya perasaan mereka?", Mbak Andy bilang "asik-asik aja, kayaknya mereka seneng, buktinya mereka bisa tertawa". Benar, sekecilpun tidak ada gurat kesedihan, mereka menikmati gulitanya malam, mereka bersahabat dengan kumal, dan mereka bernegosiasi dengan bau keringat yang menyengat. 

Ironis. Baru saja aku berada di belahan bumi dimana ditempat itu berpijak orang-orang yang wangi, berada diantara orang-orang yang dengan mudah mengeluarkan uang dari sakunya, dan berada didekat orang-orang yang dapat mudah tidur di spring bed kapan saja mereka mau. Berlawanan, sungguh bertolak belakang.  Fenomena ini benar-benar menelanjangi rasa maluku. Aku, yang memproklamirkan diriku sebagai seorang Sarjana Kesejahteraan Sosial dan sedang menempuh Master Kesejahteraan Sosial ternyata hanya bisa berkoar-koar dalam lembar Ujian. Tentang masalah sosial, tentang distorsi pembangunan, tentang kemiskinan, tentang kaum tak berdosa yang menjadi korban penguasa, tentang kasus-kasus sosial yang memprihatinkan hanya mampu ku celotehkan dalam lembar demi lembar tugas kuliah. Lalu aku bertanya, "Pantaskah aku disebut Mahasiswa Kesejahteraan Sosial?". Tak perlu di jawab, karena Guru Semalam telah memberikan jawaban.