Label

Senin, 05 November 2012

Guru Semalam

Sejak di kota ini, baru malam tadi malam terasa amat panjang. Malam yang penuh dengan Pengalaman. Bagaimana tidak? Malam tadi benar-benar membawa aku pada suatu cerita yang berlawanan dari keseharian yang kulihat. Ini bukan malam yang biasa, karena aku benar-benar bersentuhan langsung dengan malam Jakarta.

Semua berawal dari Tugas kerja Malida. tahukah kau siapa Malida? kawanku, dia seorang kawan yang sedang mendapat mandat tugas mulia untuk bersentuhan langsung dengan si kecil tak beruntung. mereka sering menyebutnya 'Anak Jalanan'. Saat mendapat tugas itu, Malida ragu. mungkin rasa takut sesejenak menyelinap dalam hatinya. Bayangkan saja, di daerah yang asing dia harus berdiri sendirian di kegelapan malam. Jika aku diposisinya bisa jadi aku lebih takut dari yang dia rasakan. Berkali-kali dia mencari alasan untuk tidak melaksanakan tugasnya. Dari alasan hujan, sendirian, bahkan gak enak badan sudah terpikirkan. Sesekali dia bilang "malida lebih suka bilang gak enak badan dari pada sakit, karena sakit itu beda dengan gak enak badan", Tepat, aku setuju tentang perbedaan itu. 

Memang, sore itu cuaca depok sangat bersahabat untuk tidak memungkinkan Malida pergi. jauh kawan, daerah Fatmawati lumayan jauh dari depok. Namun tak dinyana, sepuluh menit sebelum jam H (biasanya orang pake kata hari H untuk menunjukkan hari teng pelaksanaan kegiatan. sedangkan Jam H artinya Jam teng pelaksanaan kegiatan) hujan berhenti total. Malida yang tadinya tersenyum dengan hujan kini raut mukanya mulai masam. yah, aku sadar, hujan yang berhenti sudah tidak dapat dijadikan alasan. Melihat muka kawanku yang agak masam itu, aku coba menawarkan suatu formula :

Belgis : "Mal, gimana kalau aku ikut? tapi dengan Wirda atau Mbak Andy ya? atau Ria? kalau cuma berdua aku takut, tapi kalau bertiga aku mau"
Malida : "Beneran belgis? yakin?"
Belgis : "Iya, aku sms Wirda n Ria dulu ya"

Sambil menunggu jawaban sms kedua temanku yang tak kunjung datang, ku langkahkan kaki kekamar sebelah :
Belgis : "Mbak Andy, mau ikut Malida nggak?"
Mbak Andy : "kemana?"
Belgis : "Ke daerah Fatmawati, mangkal disana, pdkt-in anak jalanan, gimana mbak?"
Mbak Andy : "mauuu, ayuuukk, berangkat sekarang ayukk" (dengan penuh semangat) 

Setelah sholat maghrib kami berangkat. Deborah membawa kami menyusuri malam, Deborah benar-benar menyeret kami keluar dari hiruk pikuk kebingaran kota. Sedikitpun mataku tak mau diam, dia melahat lurus jauh kedepan, kekanan, kekiri jendela Deborah, dengan mata telanjang kuarahkan sejauh mata memandang.

Malida, Mbak Andy, dan Aku, siap memulai petualangan.

Kami masih asing dalam 15, 20, 25 menit diatas Deborah. Kami tahu pasti tujuan kami perempatan Fatmawati, namun kami tak tahu dimana tempat itu. Satu yang kami tahu, ke Fatmawati naek Deborah. ya, hanya itu saja. 35 menit berlalu, tiba-tiba abang kenek meneriakkan nama Rumah Sakit tempat kita tuju "Rumah Sakit Fatmawati, Rumah Sakit Fatmawati". Kami bergegas turun, karena dikasih tambahan gratis perjalanan pun oleh Deborah kami tak akan mau. Malida memulai aksinya, beuhhh... manteb bener kawanku ini, dia yang tadinya ragu untuk mendatangi tempat ini, tak disangka setelah menginjakkan kaki diperempatan jalan ini, dia seakan menjelma menjadi sosok pri. pantaslah dengan balutan kostum yang sedang dia kenakan, sepatu kets, celana jins, jaket merah, jilbab merah, dan kaos hitam yang dengan jelas tertuliskan identitas "Pekerja Sosial"

Dengan sigap namun penuh kelembutan Malida mendekati anak jalanan itu. "namanya siapa sayang? kok jam segini masih ada dijalanan?" berbagai pertanyaan lembut dan penuh kasih sayang dia lontarkan. 1,2,3, dan 9 dan lebih dari sembilan mereka mendekati kami. Mereka tersenyum, tertawa, mengatakan hal-hal lucu, bercerita ini-itu, dan ada yang hanya terdiam. mereka masih kecil, sangat kecil. Dalam tubuh mungilnya mereka harus berjuang, menjajakan suaranya dijalan demi uang recehan, membuka matanya  hingga larut dalam kelelahan. Kasihan, mereka sungguh kasihan. Aku bertanya pada Mbak Andy "Mbak, gimana ya perasaan mereka?", Mbak Andy bilang "asik-asik aja, kayaknya mereka seneng, buktinya mereka bisa tertawa". Benar, sekecilpun tidak ada gurat kesedihan, mereka menikmati gulitanya malam, mereka bersahabat dengan kumal, dan mereka bernegosiasi dengan bau keringat yang menyengat. 

Ironis. Baru saja aku berada di belahan bumi dimana ditempat itu berpijak orang-orang yang wangi, berada diantara orang-orang yang dengan mudah mengeluarkan uang dari sakunya, dan berada didekat orang-orang yang dapat mudah tidur di spring bed kapan saja mereka mau. Berlawanan, sungguh bertolak belakang.  Fenomena ini benar-benar menelanjangi rasa maluku. Aku, yang memproklamirkan diriku sebagai seorang Sarjana Kesejahteraan Sosial dan sedang menempuh Master Kesejahteraan Sosial ternyata hanya bisa berkoar-koar dalam lembar Ujian. Tentang masalah sosial, tentang distorsi pembangunan, tentang kemiskinan, tentang kaum tak berdosa yang menjadi korban penguasa, tentang kasus-kasus sosial yang memprihatinkan hanya mampu ku celotehkan dalam lembar demi lembar tugas kuliah. Lalu aku bertanya, "Pantaskah aku disebut Mahasiswa Kesejahteraan Sosial?". Tak perlu di jawab, karena Guru Semalam telah memberikan jawaban. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar