Tugas Mata Kuliah : Etika Pembangunan
Bukan identitas yang
membuat kita berteman,
yang menyebabkan kita
semua bisa berteman adalah modal, modal yang tidak mahal adalah modal sosial,
karena di dalam modal sosial itu ada sebuah kepercayaan antar teman, menjalin
silaturrahmi sebagai kewajiban, dan memperkuat kesamaan dalam perbedaan.
Itulah kunci membangun kohesi sosial dan
kesalehan sosial dalam sebuh keberagaman. (Francis Fukuyama)
Intoleransi
adalah suatu pembatasan diri atau kelompok terhadap yang berbeda dengan segala
yang berkaitan dengan diri dan kelompok tersebut, serta menolak yang berbeda
bahkan yang lebih parah dari sekedar menolak yaitu memaksakan kepada mereka yang
berbeda agar sama dengan diri ataupun kelompok. Contohnya : kekerasan yang
dilakukan oleh orang sampit terhadap
pendatang yaitu suku madura, atau pengeboman terhadap rumah-rumah ibadah.
Kasus-kasus yang tengah terjadi di Indonesia
ini menjadi kerawanan tersendiri atas keutuhan dan kesatuan Bangsa Indonesia . Bahkan,
Lembaga Survey Indonesia (22
oktober 2012), telah mengakumulasikan bahwa 50 persen
warga Indonesia
merasa tidak nyaman hidup berdampingan dengan yang berbeda pemahaman ideologis.
Dari survei tersebut juga ditemukan, lebih dari 80 persen responden merasa
tidak nyaman hidup berdampingan dengan kelompok penyuka sesama jenis. Sementara
itu, mereka yang mengaku tidak merasa nyaman bertetangga dengan yang berbeda
keyakinan adalah 15 persen. Kenyataan ini merupakan suatu tayangan kepada kita
bahwa intoleransi di Indonesia
memang semakin meradang. Oleh karena itu, prosentase jumlah meningkatnya
intoleransi di Indonesia
ini tidak sepatutnya hanya sekedar menjadi wacana yang kemudian hilang begitu
saja tanpa ditelaah sebabnya.
“Tidak
ada asap jika tidak ada api”, begitulah kata pepatah. Begitu pun dengan
meningkatnya intoleransi di Indonesia .
Meningkatnya intoleransi merupakan akibat yang tidak muncul dengan sendirinya,
ada sebab-sebab yang menyebabkan intoleransi meningkat. Sebab-sebab tersebut
yaitu :
- Sistem Demokrasi
Demokrasi
yang dipilih menjadi system pemerintahan di Indonesia ternyata berkontribusi
dalam meningkatkan intoleransi. Dengan system demokrasi, partai politik menjadi
semakin membludak. Kemudian, partai-partai tersebut saling bersaing untuk
mendapatkan kekuasaan. Sedangkan, individu-individu yang berada dalam partai
merasa mempunyai ikatan yang kuat dengan individu-individu yang satu partai.
Ikatan tersebut terus dipupuk dengan adanya kepentingan dan tujuan yang sama, sehingga
memunculkan solidaritas yang tinggi terhadap satu partai tersebut, namun mereka
akan memicingkan mata terhadap mereka yang berbeda partai, dan menganggap yang
berbeda partai adalah lawan yang harus dikalahkan.
- Fanatisme Golongan/Organisasi
Sikap
fanatis terhadap golongan atau organisasi juga menyumbangkan poin tersendiri
terhadap meningkatnya intoleransi. Tidak hanya lintas agama, akan tetapi satu
agama yang berbeda organisasi pun sering memunculkan permasalahan. Sebut saja
NU dan Muhammadiyah. Sebenarnya, keduanya merupakan organisasi, namun
masyarakat sering menempatkan NU dan Muhammadiyah setingkat dengan agama,
padahal tidak ada agama NU dan tidak ada agama Muhammadiyah. Tetapi, ketika
terjadi perbedaan antara keyakinan keduanya, seperti berbeda penetapan tanggal
hari raya iedul fitri maka akan terjadi saling menghina. Ironisnya, hal ini
tidak hanya terjadi dikalangan masyarakat awam, tetapi, dalam sidang isbat,
dapat terlihat bahwa pemuka agama juga tidak dapat menunjukkan sikap toleransi
yang sutuhnya.
- Pemimpin tidak memberi contoh
Pemimpin
merupakan sosok yang selalu dijadikan kamus oleh masyarakat. Artinya, dalam
setiap dinamika yang terjadi di masyarakat maka masyarakat akan memandang
pemimpin sebagai tokoh utama. Apa yang dilakukan oleh pemimpin maka akan
disorot dan dinilai oleh masyarakat. Ketika pemimpin melakukan suatu tindakan,
maka akan ada yang pro dan kontra. Mereka yang kontra akan melawan pemimpin dan
tidak mengikuti jejak pemimpin, sedangkan mereka yang pro maka akan mengamini
tindakan pemimpin dan mengikuti apa yang dilakukan pemimpin. Dalam kasus
intoleransi, nampaknya pemimpin juga tidak dapat memberikan contoh kepada
masyarakat bagaimana bersikap toleran terhadap orang atau kelompok lain yang
berbeda dengannya. Dapat dilihat di media, sering kali pemimpin-pemimpin kita
saling menyindir gagasan antara tokoh yang satu dengan yang lainnya.
Dari
pemaparan sebab-sebab meningkatnya intoleransi yang telah saya sebutkan, dapat
dirumuskan formula seperti artelnatif solusi sebagai berikut :
- Sistem Demokrasi yang memunculkan banyak partai di Indonesia tidak seharusnya membuat masyarakat Indonesia menjadi terkotak-kotak. Oleh karena itu, Pancasila khususnya sila ketiga sebenarnya menjadi kontrol bagi masyarakat untuk tetap menjunjung tinggi sikap toleransi, sehingga persatuan dan kesatuan Indonesia tetap kokoh.
- Penanaman, Pemahaman, dan Penerapan serta Pengahayatan terhadap nilai-nilai Bhineka Tunggal Ika. Jadi, hendaknya sejak usia dini, anak sudah harus ditanamkan oleh orang tua dan guru tentang nilai-nilai bhineka tunggal ika. Sehingga sejak kecil, anak sudah tahu bagaimana cara menghargai yang berbeda dengannya. Selain itu, pemerintah juga tidak boleh melakukan pembiaran terhadap sikap-sikap yang terwujud karena adanya intoleransi. seperti kekerasan dan kriminalitas yang dilakukan sekelompok tertentu terhadap kelompok yang berbeda. Perlu ada tindakan tegas terhadap sikap-sikap nseperti itu.
- Pemimpin memberikan contoh
Pemimpin,
dalam hal ini pemerintah, memberikan kontribusi yang cukup besar dalam membentuk
karakter masyarakat. Oleh karena itu, pemimpin hendaknya memberikan contoh
kepada masyarakat dengan tidak membedakan antara kelompok masyarakat yang satu
dengan yang lain. Selain itu, para pemimpin atau tokoh masyarakat juga harus
memberikan contoh bagaimana mereka menghargai kelompok-kelompok yang berbeda
dengan mereka, bukan justru menanamkan fanatisme kepada masyarakat sehingga
masyarakat menjadi terkotak-kotak. Jika pemimpin mampu bersikap toleransi
terhadap seluruh lapisan masyarakat maka akan sangat dimungkinkan bahwa
masyarakat akan mencontoh sikap pemimpin tersebut. (sistem patron klien
berlaku)
Untuk mewujudkan sikap toleransi
masyarakat Indonesia memang tidak mudah. Akan tetapi, kata “tidak mudah” bukan
berarti “tidak bisa”. Oleh karena itu, kita hanya butuh keyakinan bahwa “Kita
Bisa…!!!”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar