Teori behavioristik adalah sebuah teori tentang perubahan
tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Contohnya, terdapat seorang pemuda
yang setiap pagi selalu menjadi penumpang KRL ke
Sekolahnya. Dia selalu menjadi
penumpang atapers (penumpang KRL yang duduk diatas atap KRL). Kemudian, suatu
saat pemuda ini tergelincir dan hampir jatuh. Mendapati pengalaman semacam ini,
pemuda tersebut agak shock dan langsung turun. Keesokan harinya hingga saat
ini, pemuda tersebut
tidak lagi menjadi atapers. Ketika salah seorang bertanya
kepadanya mengapa dia tidak lagi menjadi penumpang atapers, dia sontak menjawab
‘saya kapok pak’.
Tokoh-tokoh aliran
behavioristik di antaranya adalah Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner.
Teori
Belajar Menurut Thorndike
Menurut
Thorndike, belajar adalah merupakan suatu proses yang berhubungan dengan
stimulus dan respon. Stimulus merupakan rangsangan sedangkan respon adalah sutu
tindakan drai stimulus. Jadi, belajar merupakan suatu respon yang berupa
tindakan yang diakibatkan dari adanya rangsangan atau stimulus. Teori Thorndike
ini disebut pula dengan teori koneksionisme. Ada tiga hukum belajar yang utama,
menurut Thorndike yakni (1) hukum efek; (2) hukum latihan dan (3) hukum
kesiapan. Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana hal-hal
tertentu dapat memperkuat respon.
Teori
Belajar Menurut Watson
Watson
hamper sama dengan Thorndike yang menggambaran belajar sebagai suatu respon
dari stimulus yang diterima individu. Namun, Watson menegaskan bahwa stimulus
dan respon tersebut harus dapat di ukur. Sedangkan, bagaimana cara mengukur
stimulus dan respon tidak dibahas olehnya.
Teori
Belajar Menurut Clark Hull
Clark Hull
juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan
pengertian belajar. Namun dia sangat terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin. Hull lebih memfokuskan bahwa tingkah laku manusia berubah
sesuai dengan kebutuhan biologisnya.
Teori
Belajar Menurut Edwin Guthrie
Belajar
merupkan gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan. Guthrie juga
menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya
proses belajar. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh
karena itu respon harus terus-menerus diberikan. Guthrie juga percaya bahwa
hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar.
Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku
seseorang.
Teori
Belajar Menurut Skinner
Konsep-konsep
yang dikemukanan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh
sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun
lebih komprehensif. Menurut Skinner hubungan antara
stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang
kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang
dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Menurutnya respon yang diterima
seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan
saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan memengaruhi respon yang
dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi.
Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya memengaruhi munculnya perilak.
Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus
memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami
konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul
akibat respon tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa dengan menggunakan
perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya
akan menambah rumitnya masalah. Sebab setiap alat yang digunakan perlu
penjelasan lagi, demikian seterusnya. Teori yang dikemukakan oleh Skinner ini
terkanal dengan sebutan Teori Neo Behaviosrisme.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar