Label

Rabu, 27 Oktober 2010

I miss U ^_^

-->
"untuk... ayah tercinta, aku… ingin bernyanyi, walau… air mata di pipiku,,,
ayah... dengarkanlah, aku… ingin bertemu, walau... hanya dalam mimpi".
bait lagu ini membuat aku jauh menerawang kembali ke hari-hari ku yang silam, hari-hari dimana aku masih bisa melihat senyum ayah tersayang, detik-detik dimana aku masih bisa merasakan kehangatan seorang ayah tercinta, semua terasa begitu indah, semua tak kan terlupakan.

Bagiku ayah adalah seorang pahlawan,  ayah adalah sosok yang begitu penyayang terhadap keluarga, beliau begitu sabar, beliau begitu lembut, beliau begitu murah senyum, tak pernah sedikitpun ayah marah padaku dengan kasar. Saat aku malas belajar ayah memompa semangatku dengan nasihat yang membuat semangatku membara “belgis, tanamkan pada dirimu bahwa belajar itu seperti makan, jika kamu tidak makan maka kamu akan lapar, begitu juga dengan belajar, jika kamu tidak belajar maka kamu akan kelaparan”, aku tersenyum dan dengan ringan kujawab “tapi, kalau gak belajar koq perut belgis gak lapar ya yah”,,, hemm ^_^  ...dengan sabarnya ayahku menjawab “belgis,,, bukan perutmu yang lapar sayang,,, tapi otakmu, hatimu, yang akan kelaparan, otakmu lapar dengan pengetahuan, hatimu lapar dengan ilmu, jika kamu tidak memberinya makan maka otak dan hatimu akan mati, jika itu yang terjadi maka sia-sialah apa yang Allah berikan padamu, kalau belgis cinta Allah, pandai-pandailah bersyukur atas pemberiannya, gunakanlah pemberian allah dengan sebaik-baiknya…” aku yang saat itu masih 9 tahun berusaha selalu mengingat apa yang ayah  katakan, dan hingga kini saat aku malas belajar rekaman memori saat itu kembali tersintesa dengan jelas di depan mataku.

Ayah mengajarkanku untuk selalu mengingat Allah pada setiap hembusan nafas yang ku hembuskan, ayah selalu mengajakku untuk meletakkan nama Allah dalam setiap aliran darah yang mengalir ditubuhku, ayah selalu membuat hatiku untuk memanggil-manggil nama Allah dalam setiap waktu, ayah selalu membawaku untuk mengenal Allah, mengenal Allah dengan sebenar-benar kenal (ma’rifah billah, haqqa ma’rifatih).

Tapi, 27 November 2007,,,, ayah telah kembali padaNya, ayah kembali dengan tersenyum seakan menyambut senyum RoobNya, dan kami, aku, ibu, adek, saudara, tetangga, menangis haru atas kepergiannya.
“Laailaahaillallah,,, laailaahaillah,,, laailaahaillah,,, Muhammadurrosulullah” gema tahlil mengiringi kepergiannya,,, ingin aku menghentikan langkah mereka yang membawa ayahku pergi, ingin aku berkata “jangan bawa pergi ayahku, izinkan aku sedetik lagi untuk melihatnya, izinkan aku semenit lagi untuk memeluknya”, namun aku sadar ayah bukan milikku, ayah milik Robbku, kapan pun Allah mau mengambilnya dariku aku harus ikhlas melepasnya, ikhlas dan percaya bahwa itu yang terbaik untuk ayahku, ayah terlalu lama sakit, 6 tahun serosis mengikis habis tubuhnya yang gagah, selama itu ayah menderita sakit yang luar biasa,,, tapi aku bangga, tak sedikit pun ayah mengeluh, ayah begitu sabar menerima semua cobaan, ayah tetap tegar dan tersenyum riang walau beliau sendiri tahu bahwa sakitnya sudah begitu parah, beliau juga tahu bahwa hidupnya tinggal menunggu waktu, tapi ayah pasrah, ayah ikhlas, dan ayah tetap tersenyum dengan indah hingga akhirnya senyum dan lantunan syahadad itu menutup kedua matanya untuk selamanya.
Ayah…….. aku rindu padamu    ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar