Label

Senin, 10 Desember 2012

Saya Gak Mau TUHAN

Saat kawan-kawan baca Judul ini, mungkin kawan-kawan bakalan bilang "wah, parah nih Belgis, bisa-bisanya bilang kayak gitu", atau "hah !! Saya Gak Mau TUHAN? maksudnyaaa???", atau yang lebih ekstrim "Astaghfirullah...., bisa-bisanya si Belgis ngomong kayak gini". Eittssssss.. Jangan su'udzan dulu yaaa. Judul ini adalah secuil kalimat yang muncul dari lesan saya waktu saya kecil. Mau tahu tahu kelanjutan kisahnya? Cekidottttttttt.... :D

*******
Saat itu usia saya empat setengah tahun. Masa itu adalah masa-masa saya masuk sekolah TK nol Kecil. Sebelum masuk sekolah, baik Mama maupun Papa selalu mengajari saya tentang materi-materi dasar yang memang perlu dikonsumsi oleh anak seusia saya. Mama selalu berprinsip bahwa orang tua adalah guru pertama bagi anak. Oleh karena itu, Mama selalu bagi tugas dengan Papa untuk memberikan privat kepada saya. Papa membimbing saya tentang materi-materi yang berkaitan dengan pelajaran Matematika, Sejarah Indonesia, dan Pelajaran Membaca. Sedangkan Mama yang membimbing saya tentang materi-materi yang berkaitan dengan pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris Dasar, dan Tulis-menulis. Untuk materi tentang Agama Islam, seperti tata cara Sholat, Sejarah para Nabi dan Sahabat, serta doa-doa yang harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-sehari, bukan hanya bagian Mama atau hanya bagian Papa, tetapi bagian keduanya.

Super ego yang ditanamkan oleh Mama dan Papa tentang masuk kamar mandi harus mendahulukan kaki kiri dan membaca doa, kemudian keluar kamar mandi mendahulukan kaki kanan dan membaca doa, mau tidur membaca doa, bagun tidur membaca doa, mau belajar membaca doa, selesai belajar membaca doa, mau makan membaca doa, selesai makan membaca doa, senantiasa saya praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, karena saya terus menerus mempraktekkannya maka layaknya Teori Behaviorisme yang mengatakan bahwa "prilaku yang terus-menerus dipraktikkan maka akan menjadi kebiasaan", begitu juga dengan kebiasaan saya melafalkan doa-doa tersebut ketika 'akan' ataupun 'usai' melakukan sesutau.

Saya, adalah seorang yang selalu patuh terhadap apa yang diperintah oleh orang tua dan guru. Berbicara soal kepatuhan, saya jadi teringat bahwa panggilan Mama yang berganti Ibu dan panggilan Papa yang berganti Ayah itu juga karena implikasi dari kepatuhan saya terhadap guru agama saya. Waktu itu, guru agama saya bertanya kepada semua muridnya, "kalian kepada orang tua panggil apa?". Berbagai jawaban di lontarkan oleh teman-teman, ada yang memanggil "bapak dan emak", "abah dan emak", "ibu dan bapak", "bapak dan mama", dan saya pun menjawab "mama dan papa". Setelah mendengar semua jawaban murid-muridnya, guru agama tersebut berkata "jangan memanggil orang tua dengan mama dan papa, seperti orang kristen", katanya. Saya yang masih kecil langsung menelan mentah-mentah apa yang dikatakan guru agama saya tersebut. Setelah itu, spontan saya langsung mengubah panggilan mama menjadi ibu, dan panggilan papa menjadi ayah. :D

Kembali ke kebiasaan doa. Setelah ayah dan ibu berhasil membuat saya selalu berdoa sebelum dan setelah melaksanakan aktivitas, maka dimanapun, dan kapanpun, doa-doa itu selalu melekat dengan diri saya. Sehingga, suatu saat ketika saya sudah mulai masuk sekolah TK, saya selalu berharap bahwa hari sabtu, ketika jam makan bersama, saya bisa dengan lantang berdoa dengan doa sebelum dan setelah makan yang diajarkan ayah dan ibu.

Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan tibalah hari sabtu. Hari Sabtu ini adalah hari yang menunjukkan bahwa saya telah genap seminggu belajar di TK ini. Seragam sekolah saya juga sudah jadi. Sehingga, hari Senin depan saya sudah dapat mengenakannya ke sekolah. Berbeda dari hari-hari biasanya. Pada Hari Sabtu, siswa-siswi selalu diminta membawa bekal masing-masing oleh guru TK. Alasannya, karena setiap Hari Sabtu Pagi kami berolahraga dan setelah berolahraga, ada jam makan siang. Inilah hari dan jam yang paling saya tunggu-tunggu. Saya sangat berharap ketika jam makan siang nanti, saya bisa melafalkan dengan lantang dan tepat doa sebelum makan yang telah di ajarkan ibu dan ayah. Dengan begitu, ibu saya yang melihat saya di depan pintu TK menjadi tersenyum senang melihat saya hafal doa yang telah beliau ajarkan.

Jam makan siang pun tiba. Semua siswa telah bersiap makan bekal yang dimasak oleh tangan halus ibu masing-masing. Bekal tersebut kami siapkan di atas meja. Kemudian, ibu guru datang, beliau mengajak kami berdoa, "anak-anakku, sebelum makan mari kita berdoa : Yaa... Tuhan, Terimakasih atas...", sebelum ibu guru selesai memimpin doa, tiba-tiba saya menjerit nangis histeris, saya berlari kearah ibu saya, dan menangis sejadi-jadinya dengan berkata "Saya Gak mau berdoa Ya TUHAN, saya mau berdoa Allahummabaariklanaa fiimaa rojaktana waqinaa adzabannar, Saya Gak mau TUHAN, saya mau ALLAH".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar